A.S. dan Tiongkok mempraktikkan respons kerja sama terhadap bencana alam

A.S. dan Tiongkok mempraktikkan respons kerja sama terhadap bencana alam

Hamid Sellak

Amerika Serikat dan Tiongkok mengesampingkan perbedaan ketika para insinyur dan petugas medis dari kedua angkatan darat berpartisipasi dalam latihan bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana (humanitarian assistance and disaster relief – HADR) di Camp Rilea di pesisir Pasifik Oregon, Amerika Serikat. Latihan pada pertengahan November 2017 itu difokuskan pada bencana banjir.

Pada acara penutupannya, para komandan memuji Pertukaran Manajemen Bencana (Disaster Management Exchange- DME) A.S.-Tiongkok tahunan, yang diadakan untuk yang ke-13 kalinya sejak tahun 2005, sebagai aspek penting dari kerja sama keamanan. Mayjen Zhang Jian dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok menyebutnya “pertukaran yang terjalin sejak dulu kala” yang “menegaskan komitmen” kedua negara terhadap kerja sama keamanan dan HADR. Jenderal Robert B. Brown, komandan Angkatan Darat A.S. di Pasifik, yang menjadi tuan rumah latihan tersebut, berbicara tentang pentingnya berbagi “pengalaman, teknik, dan praktik terbaik” untuk menyelamatkan jiwa dan “meminimalkan penderitaan manusia di zona bencana.”

Analis pertahanan Rand Corp. Timothy R. Heath mengatakan kepada FORUM bahwa latihan seperti DME mengurangi bahaya konflik militer.

“Latihan untuk meningkatkan kerja sama dan menstabilkan hubungan semakin penting terutama oleh karena ketegangan dan perselisihan yang semakin dalam di Laut Cina Selatan, Taiwan, dan tempat lain,” kata Heath. “Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin meningkat, dan menemukan cara untuk menambahkan stabilitas pada persaingan yang berpotensi berbahaya sangatlah penting untuk meminimalkan risiko krisis militer. Kerja sama dalam masalah bersama seperti HADR dapat memainkan peran penstabilan penting dalam persaingan yang lebih luas. Tanpa upaya membangun kerja sama, persaingan itu bisa tumbuh menjadi lebih tidak bersahabat dan berbahaya.”

Heath menjelaskan bahwa meskipun bidang kerja sama masih terbatas pada isu kemanusiaan dan ancaman transnasional, kedua negara dapat bekerja sama dalam kedokteran militer, melawan pembajakan maritim, dan pencarian dan penyelamatan maritim. (Foto: Peserta menyimak pidato saat upacara pembukaan Pertukaran Manajemen Bencana A.S.-Tiongkok tahun 2017.)

Akan tetapi, dia menjelaskan bahwa mengundang pasukan militer negara pesaing untuk berpartisipasi dalam latihan bukannya tanpa risiko. Risiko semacam itu tampak jelas pada latihan Rim of the Pacific 2014, latihan maritim multinasional dua tahunan. Selain empat kapalnya yang berpartisipasi, Angkatan Laut PLA membawa kapal pengawas elektronik yang tidak diundang di sekitar lokasi latihan di dekat Hawaii. Akan tetapi mengenai DME, “risiko intelijen mungkin rendah, karena sifat dari latihan tersebut,” kata Heath.

Heath menekankan bahwa DME dapat membangun kepercayaan di antara personel militer, yang bisa terbukti berguna dalam krisis. “DME benar-benar menjadi dasar bagi hubungan A.S. dan Tiongkok,” kata Jenderal Brown dalam pidato penutupannya. “Saya bangga dengan pekerjaan yang telah dilakukan semua orang. Semakin banyak yang bisa kita capai sekarang dalam hal dekonfliksi dan pengurangan risiko, maka membuat kita lebih efektif saat krisis benar-benar terjadi dan menyelamatkan nyawa nantinya.”

Hamid Sellak merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Malaysia.

saham