A.S. memberlakukan sanksi terhadap jenderal Myanmar dan selusin tokoh lainnya

A.S. memberlakukan sanksi terhadap jenderal Myanmar dan selusin tokoh lainnya

The Associated Press

Amerika Serikat pada akhir Desember 2017 melangkah mundur dari upaya selama setengah dasawarsa untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Myanmar, mengutuk seorang jenderal tertinggi Myanmar dan memasukkannya ke dalam daftar hitam yang memalukan atas perannya dalam kekejaman terhadap Muslim Rohingya. Sanksi baru itu adalah tanggapan A.S. yang paling serius sejauh ini tentang apa yang disebutnya “pembersihan etnis” di bagian barat negara Asia Tenggara itu. (Foto: Seorang anak Muslim Rohingya menarik gerobak yang terbuat dari wadah plastik saat anak-anak bermain di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhiya, Bangladesh, pada Desember 2017.)

Pemerintahan Presiden A.S. Donald Trump mengumumkan hukuman terhadap total 13 orang di seluruh dunia. Mereka termasuk mantan presiden Gambia, putri mendiang diktator Uzbekistan, dan putra jaksa agung Rusia. Sanksi tersebut merupakan rangkaian sanksi pertama yang diberlakukan berdasarkan undang-undang tahun 2016, yang diambil namanya dari pengacara Rusia yang meninggal di penjara, yang memberdayakan Departemen Keuangan A.S. untuk menarget pejabat di mana saja yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi.

Dimasukkannya Maung Soe dari Myanmar dalam daftar itu mungkin merupakan langkah paling dramatis sehubungan dengan kebijakan luar negeri A.S. Washington secara progresif mengurangi sanksi ekonomi dan politik terhadap Myanmar yang dimulai pada tahun 2012 untuk memberi penghargaan kepada negara itu atas perubahannya menuju demokrasi setelah berpuluh-puluh tahun berada di bawah pemerintahan militer. Ikatan itu berkembang lebih jauh saat peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi naik ke tampuk kekuasaan.

Hubungan itu memburuk sejak tindakan keras Myanmar di negara bagian Rakhine, yang telah memaksa 650.000 orang untuk melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh dan, menurut kelompok bantuan Doctors Without Borders, menyebabkan ribuan orang tewas. Maung Soe hingga November 2017 merupakan komandan militer di Rakhine, dan A.S. mengatakan bahwa dia bertanggung jawab atas “pelecehan hak asasi manusia yang meluas,” dengan mengutip bukti-bukti yang dapat dipercaya tentang pembunuhan massal, pemerkosaan, dan desa-desa yang dibakar.

Tokoh terkemuka lainnya yang dihukum pada akhir Desember 2017 meliputi:

—Yahya Jammeh, mantan presiden Gambia. Dia diduga telah menciptakan regu bersenjata yang dikenal sebagai “the Junglers” yang meneror dan membunuh banyak musuh politik, termasuk pemimpin agama, jurnalis, dan pembangkang, selama dia berkuasa dari tahun 1994 hingga 2017. Jammeh juga dituduh menguras perbendaharaan negaranya dengan mencuri dana negara setidaknya 677,4 miliar rupiah (50 juta dolar A.S.).

—Gulnara Karimova, putri mendiang pemimpin Uzbekistan, Islam Karimov. Dia dikatakan telah memimpin sindikat kejahatan terorganisir yang menggunakan lembaga pemerintah untuk mengambil alih bisnis, memonopoli pasar, meminta suap, dan melakukan pemerasan.

—Artem Chaika, putra Jaksa Agung Rusia Yury Chaika. Artem Chaika dituduh menggunakan koneksi keluarganya untuk membeli aset milik negara dan memenangkan kontrak secara tidak adil, serta menindas dan mengganggu pesaing.

Tindakan Departemen Keuangan A.S. itu membekukan aset yang dimiliki orang-orang tersebut di yurisdiksi A.S. Warga Amerika dilarang melakukan bisnis dengan orang-orang tersebut. Tidak jelas apakah orang-orang itu memiliki hubungan atau kepemilikan keuangan yang luas di Amerika Serikat. Daftar hitam itu dirancang untuk menyebabkan kerusakan reputasi yang akan membuat bank-bank di Eropa, Asia, dan tempat lain juga memutuskan hubungan.

“Saat ini, Amerika Serikat mengambil sikap tegas terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi secara global dengan menyingkirkan tokoh jahat ini dari sistem keuangan A.S.,” kata Menteri Keuangan A.S. Steven Mnuchin. Dia mengatakan bahwa hukuman itu mengirimkan “pesan bahwa ada harga mahal yang harus dibayar untuk tindakan jahat mereka.”

saham