Bangkitnya Perahu-Perahu Kecil Perahu-Perahu Kecil

Bangkitnya Perahu-Perahu Kecil Perahu-Perahu Kecil

Pengalaman Angkatan Laut Sri Lanka memberikan pelajaran bagi negara-negara maritim untuk memperkuat strategi kontraterorisme

Letkol Alex Carter/Angkatan Darat A.S. dan Kolonel Damian Fernando/Angkatan Laut Sri Lanka

Negara mana pun yang memiliki perbatasan maritim harus memiliki rencana untuk melawan ancaman teroris di dan dari laut sebagai bagian dari strategi kontraterorisme nasional. Strategi apa pun yang tidak memiliki rencana semacam itu untuk melindungi perbatasan maritim pada dasarnya bersifat cacat dan rentan akan bahaya.

Terlalu banyak strategi kontraterorisme yang telah mengabaikan nuansa dan ancaman ranah maritim demi ranah darat yang lebih mudah dan lebih dapat didefinisikan karena kenyamanan, ketidaktahuan, atau keduanya.

Teroris merencanakan dan mengeksekusi serangan terhadap target maritim, sering kali dengan efek yang menghancurkan. Pengalaman Angkatan Laut Sri Lanka dalam memerangi teroris di laut menawarkan wawasan tentang bagaimana angkatan laut, besar dan kecil, dapat meningkatkan keampuhan strategi kontraterorisme mereka dengan menggunakan perahu kecil untuk memerangi ancaman teroris di perairan.

Penggunaan laut dan taktik pengerumunan 

Pelaut Sri Lanka menyaksikan kapal perang Samudura memasuki pangkalan angkatan laut Trimcomalee pada September 2007 ketika perang saudara sedang berlangsung. THE ASSOCIATED PRESS

Motivasi dan kemungkinan aksi teroris di laut dapat diukur melalui beberapa faktor. Faktor-faktor ini mencakup tingkat sponsor negara yang dimiliki oleh organisasi teroris, seberapa baik hubungan organisasi itu dengan kelompok-kelompok teroris lainnya, tingkat keterlibatan dalam perdagangan narkoba, dan apakah organisasi teroris itu dapat melakukan operasi di tempat pelindungan yang aman bagi mereka, seperti yang dijelaskan oleh Victor Asal dan Justin Hastings dalam jurnal Terrorism and Political Violence edisi tahun 2015. Salah satu atau beberapa faktor ini dapat memotivasi organisasi teroris untuk memulai atau mematangkan strategi maritim mereka guna mencapai sasaran politik melalui kekerasan.

Serangan teroris semacam itu di laut telah terjadi dalam banyak bentuk. Tim berbasis darat dapat menggunakan penyelam terlatih untuk menempatkan bom rakitan di atas kapal, kapal serbu, kapal bunuh diri, dan bahkan ranjau laut. Teknologi pendukung telah berkisar dari perahu cepat, scuba, skuter laut — semuanya biasanya dibantu oleh GPS, demikian menurut laporan pada tahun 2001 yang ditulis oleh analis keamanan Rohan Gunaratna di Jane’s Navy International. Asal dan Hastings menulis bahwa dalam satu penelitian, 15 kelompok teroris, termasuk Hamas, Al-Qaeda, Kelompok Abu Sayyaf, dan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE), melakukan setidaknya satu serangan maritim antara tahun 1998 dan 2005.

Bagi banyak teroris, laut tidak diragukan lagi merupakan tempat yang menarik untuk melakukan kegiatan dan operasi yang mendukung tujuan mereka. Laut dapat berfungsi sebagai arena untuk melakukan serangan terhadap sasaran maritim bernilai tinggi seperti kapal perang, anjungan minyak, atau pelabuhan, demikian menurut Dr. Norman Cigar, yang sekarang bekerja sebagai peneliti di Marine Corps University, Quantico, Virginia. Laut juga dapat berfungsi sebagai jalan pendekatan, lini komunikasi, dan aset ekonomi, seperti yang dijelaskan Cigar dalam monografi pada Mei 2017 berjudul The Jihadist Maritime Strategy: Waging a Guerrilla War at Sea (Strategi Maritim Pejuang Jihad: Melancarkan Perang Gerilya di Laut).

Teroris dapat menggunakan laut untuk memindahkan peralatan dan personel secara rutin dari satu lokasi ke lokasi lain. Laut juga dapat digunakan sebagai rute pelarian, memberikan jalan bagi para teroris untuk segera meninggalkan sebuah daerah begitu operasi telah dilakukan di darat. Cigar menjelaskan bahwa secara ekonomi, laut juga dapat dipandang sebagai aset oleh teroris yang dapat mengendalikan dan memperoleh keuntungan dari kegiatan ilegal seperti operasi penyelundupan berbasis laut, seperti perdagangan manusia, pengiriman minyak ilegal, dan perdagangan terkait minyak lainnya.

Karena kombinasi alasan dan motivasi yang disebutkan tersebut, organisasi teroris, selama bertahun-tahun, telah melakukan banyak serangan sukses terhadap target maritim bernilai tinggi. Serangan yang paling signifikan adalah serangan Al-Qaeda terhadap kapal USS Cole pada tahun 2000, yang menewaskan 17 Pelaut A.S. Serangan lainnya adalah pada tahun 2002, ketika Al-Qaeda melakukan serangan pertama yang sukses terhadap kapal tangki super komersial milik Prancis, Limburg, menggunakan perahu kecil yang diisi penuh dengan bahan peledak. Serangan itu diluncurkan ketika Limburg berada pada jarak 12 mil laut di lepas pantai Yaman, menewaskan seorang anak buah kapal, melukai 12 orang lainnya, dan menyebabkan tumpahan 90.000 barel minyak mentah di sepanjang lebih dari 72 kilometer garis pantai. Teroris juga menyerang fasilitas angkatan laut Pakistan pada tahun 2009 dan 2011. Sebuah organisasi yang terhubung dengan Al-Qaeda atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melakukan serangan terhadap kapal angkatan laut Mesir pada tahun 2015.

Akan tetapi, perjuangan pemerintah Sri Lanka melawan LTTE yang menawarkan sumber dokumentasi dan sejarah terkaya mengenai serangan maritim teroris. Pada puncak efektivitas militer LTTE, kelompok itu menghancurkan sekitar sepertiga kapal patroli pantai, kapal patroli samudra, kapal serbu cepat, dan kapal perang Angkatan Laut Sri Lanka, demikian yang dilaporkan Jane’s Navy International.

Pelaut Sri Lanka melakukan latihan anti-teror sesuai dengan konsep perahu kecil Angkatan Laut Sri Lanka, bagian dari strateginya untuk menghadapi ancaman teroris. Angkatan Laut Sri Lanka

Sejak awal, LTTE besar kemungkinan perlu melakukan operasi teroris yang menghancurkan itu di laut karena LTTE “memerlukan jalur komunikasi laut yang aman untuk memasok pasukan mereka dengan peralatan perang modern dan menggunakan ruang manuver terbuka di laut untuk menyerang angkatan bersenjata, pemerintah, dan ekonomi Sri Lanka,” tulis Paul Povlock di Small Wars Journal pada September 2011. Operasi terorisme maritim pertama di perairan Sri Lanka terjadi pada tahun 1990 ketika LTTE meluncurkan misi bunuh diri pertamanya terhadap kapal komando pengintaian Angkatan Laut Sri Lanka, Abeetha dan Editharain. Pada tahun 1994, serangan bunuh diri diluncurkan terhadap kapal patroli Angkatan Laut Sri Lanka, demikian yang dilaporkan Jane’s Navy International pada tahun 2006. Kapal ini, Sagarawardena, merupakan kapal perang kelas sub-pemburu terbesar di Sri Lanka. Pada tahun 1998, LTTE merusak dua kapal Angkatan Laut Sri Lanka, menewaskan lebih dari 50 Prajurit Sri Lanka. Pada tahun 2000, perahu serangan bunuh diri LTTE melakukan tujuh serangan terpisah terhadap kapal Angkatan Laut Sri Lanka, menghancurkan empat kapal serbu cepat dan membunuh atau melukai 13 Pelaut. Pada tahun 2006, perahu serangan bunuh diri LTTE melakukan sembilan serangan, menghancurkan enam perahu patroli pesisir dan pantai dan membunuh atau melukai 58 Pelaut, demikian menurut Kementerian Pertahanan Sri Lanka. Taktik medan perang utama dalam kasus ini adalah penggunaan “pengerumunan,” peperangan asimetris yang dirancang untuk membuat target kewalahan. Justin Smith menulis di Small Wars & Insurgencies edisi tahun 2011 bahwa perahu bunuh diri LTTE, “sering kali tidak dapat dikenali dan tersembunyi di antara perahu serbu, digunakan dalam serangan perahu bunuh diri dan pengerumunan.” Pemahaman tentang taktik pengerumunan memiliki relevansi tertentu dengan angkatan laut lain yang berjuang untuk menghadapi ancaman teroris di laut.

Pengerumunan, menurut sebuah studi dari Rand Corp. pada tahun 2000 berjudul “Swarming and the Future of Conflict” (Pengerumunan dan Masa Depan Konflik), merupakan bentuk pertempuran kuno yang semakin populer di era modern. Organisasi kerumunan biasanya menunjukkan perilaku otonom atau semiotonom, cara terkoordinasi untuk menyerang dari segala arah dengan aliran pasukan atau tembakan berkelanjutan, kemampuan menjaga jarak dan berada di dekat target, dan kemampuan untuk mengganggu kohesi musuh, demikian ungkap studi itu. Kerumunan militer dapat menyerang target dari berbagai arah yang berbeda, dengan sejumlah besar unit kecil yang terhubung dengan baik dari perspektif komunikasi atau jaringan serta dari perspektif geografis atau fisik, demikian menurut studi itu. Studi itu mengungkapkan bahwa seperti kawanan serigala di dunia hewan atau kapal selam U-boat Jerman dan pilot kamikaze Jepang selama Perang Dunia II, kelompok teroris dapat berkerumun di perairan terbuka dan laut lepas dengan datang bersama-sama pada saat dan lokasi yang tepat untuk menimbulkan kerusakan dan kemudian membubarkan diri dengan cepat.

Implikasinya adalah bahwa “militer mungkin perlu mengkaji kembali kemampuan dan doktrin pertempuran jarak dekat mereka,” ungkap studi dari Rand Corp. itu. Misalnya, kelompok teroris seperti Hezbollah telah menggunakan taktik pengerumunan untuk menghadapi serangan komando Israel di Libanon selatan. Hal ini mungkin menjelaskan penarikan taktis Israel dari Libanon selatan — ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan praktik pengerumunan musuh-musuhnya.

Pengerumunan merupakan taktik nonkonvensional untuk militer konvensional. Hal ini terutama benar adanya dengan tantangan yang dihadapi angkatan laut di seluruh dunia dalam memerangi ancaman teroris dari laut. Dalam kasus Angkatan Laut Sri Lanka yang menghadapi banyak serangan teroris dari LTTE di laut, Angkatan Laut Sri Lanka berjuang untuk mempelajari cara mengembangkan doktrin dan taktik untuk melawan taktik pengerumunan LTTE. Pengalaman Angkatan Laut Sri Lanka dengan perahu-perahu kecil LTTE dapat memberikan inspirasi kepada angkatan laut lain yang berjuang untuk mengatasi jenis peperangan ini.

Pengalaman Sri Lanka 

Tantangan maritim Sri Lanka sangat besar. Kawasan Asia Selatan “berada pada jalur komunikasi laut yang vital tempat sejumlah besar perdagangan, termasuk energi, melakukan perjalanan dari Asia Barat Daya, melalui Selat Malaka, ke kawasan industri Asia,” tulis Dr. Cristopher Snedden, seorang profesor di Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies pada tahun 2016. Dengan demikian, lokasi strategis Sri Lanka di Samudra Hindia tidak hanya menjadikannya penting bagi kawasan itu tetapi juga bagi perdagangan global, yang sebagian besar mengalir melalui jalur pelayaran tepat di selatan Sri Lanka. Angkatan laut yang kuat sangat penting dalam melindungi kepentingan ekonomi.

Pelaut Angkatan Laut Sri Lanka berpatroli di pantai Dehiwala di dekat Kolombo pada Maret 2009, dua bulan sebelum perang saudara berakhir. REUTERS

Dari perspektif maritim, Perang Falkland pada tahun 1982, antara Inggris dan Argentina, merupakan konflik angkatan laut konvensional terakhir yang diketahui, ketika dua angkatan laut saling bertempur di laut. Di era modern, sebagian besar angkatan laut memiliki pengalaman tempur konvensional yang terbatas dalam memukul mundur dan menghancurkan agresor di laut. Akan tetapi, sejak tahun 1982, Angkatan Laut Sri Lanka merupakan satu-satunya angkatan laut di dunia yang terlibat dalam operasi tempur angkatan laut yang memiliki arti penting di kawasan Indo-Pasifik. Operasi-operasi ini dilakukan untuk melawan ancaman kredibel: LTTE. Selama perang saudara di Sri Lanka, yang dimulai pada tahun 1983, LTTE berjuang untuk menciptakan negara Tamil merdeka bernama Tamil Eelam di bagian utara dan timur pulau Sri Lanka. Pertempuran terjadi di darat dan laut, dengan cara konvensional dan nonkonvensional selama 26 tahun. Akhirnya, pada tahun 2009, pemerintah Sri Lanka mengalahkan Macan Tamil.

Selama masa puncak perang itu, LTTE mengerahkan kemampuan angkatan laut yang cukup besar untuk memerangi Angkatan Laut dan pemerintah Sri Lanka. Armada LTTE terdiri atas 4.000 personel yang bekerja di bidang operasi, logistik, komunikasi, intelijen, dan bagian lainnya. Armada itu memiliki perahu serbu cepat berbahan Fiberglass buatan dalam negeri seperti perahu kelas Thrikka berkapasitas empat orang, perahu kelas Suddai berkapasitas enam orang, perahu kelas Muraj, dan perahu kecil kelas Idayan berkapasitas dua orang yang digunakan untuk serangan bunuh diri terhadap target maritim, demikian yang dijelaskan Povlock di Small Wars Journal. Semua perahu itu, kecuali perahu kecil kelas Idayan, dilengkapi dengan satu atau beberapa senapan mesin berat. Perahu kecil kelas Idayan berisi bahan peledak yang dirancang untuk meledak pada saat menabrak target. Perahu-perahu kecil sengaja digunakan karena beberapa alasan taktis yang bagus.

Perahu-perahu kecil sulit dideteksi oleh sebagian besar sensor — perahu ini bergerak tepat di atas permukaan air dan memiliki berbagai macam bentuk. Selain itu, kemudahan memindahkan satu atau beberapa perahu kecil menciptakan fleksibilitas dalam memilih waktu, tempat, dan mode serangan terhadap platform angkatan laut atau komersial. Selain itu, perahu penangkap ikan yang tidak terlihat mencurigakan, perahu pribadi, perahu pesiar, atau perahu cepat kecil lainnya yang dirancang secara khusus dapat dengan mudah dikonversi menjadi perahu bunuh diri yang mematikan untuk membawa bahan peledak guna menimbulkan kerusakan parah. Perahu kecil memiliki keuntungan karena dapat bermanuver di tempat-tempat kecil dengan kecepatan lambat seperti melewati jalur pelayaran yang bercabang-cabang atau di daerah yang biasanya dilalui oleh sejumlah besar kapal. Perahu kecil yang dimuati bahan peledak berkekuatan tinggi dapat menyebabkan kerusakan dan kehancuran yang luas di lokasi yang paling tidak nyaman dan pada saat yang paling tidak nyaman.

Prajurit Angkatan Laut berjaga di pelabuhan utama Kolombo di Sri Lanka pada April 2018. REUTERS

Perahu kecil merupakan alat bantu pilihan yang sempurna dan mematikan dalam menggunakan taktik pengerumunan yang menghancurkan untuk mencapai efek dahsyat di laut. Perahu kecil yang menyamar sebagai perahu penangkap ikan di daerah padat dapat dengan mudah menyerang kapal dagang. Mayoritas perdagangan global dilakukan di samudra, dan satu serangan semacam itu terhadap kapal tangki minyak atau kimia atau bahkan kapal penumpang atau kapal pesiar akan berdampak besar, baik secara politik maupun ekonomi. Organisasi teroris dapat dengan mudah menggunakan perahu-perahu kecil untuk membahayakan perdagangan maritim internasional Sri Lanka dengan merusak atau menenggelamkan kapal-kapal kontainer besar seperti kapal kelas Triple E milik Maersk di ibu kota dan pelabuhan utama Sri Lanka, Colombo. Armada angkatan laut juga dapat menjadi sasaran perahu-perahu kecil di titik keluar masuk rawan, seperti pintu masuk pelabuhan. Penundaan operasi pelabuhan selama beberapa hari saja, apalagi berminggu-minggu, akan sangat menghancurkan.

Efek yang menghancurkan dari perahu kecil bunuh diri LTTE di laut terhadap Angkatan Laut Sri Lanka mendorong perubahan strategi dan doktrin. Laksamana Madya Wasantha Karannagoda dari Angkatan Laut Sri Lanka mengembangkan pendekatan kreatif yang disebutnya “konsep perahu kecil,” berdasarkan peralatan baru dan taktik baru, seperti yang ditulis Smith di Small Wars & Insurgencies. Pada hakikatnya, taktik baru itu adalah “mengalahkan gerilyawan dengan taktik gerilya,” seperti yang dijelaskan Povlock. Taktik baru sangat dibutuhkan untuk memerangi taktik pengerumunan LTTE yang menggunakan perahu kecil, beberapa di antaranya adalah perahu bunuh diri Idayan. Doktrin Angkatan Laut Sri Lanka berkembang untuk memerangi perahu-perahu serbu kecil LTTE dengan perahu-perahu kecilnya sendiri dalam jumlah yang lebih besar, kerumunan dilawan dengan kerumunan. Konsep perahu kecil digunakan untuk melawan taktik pengerumunan dan bunuh diri LTTE dengan perahu patroli pesisir berkecepatan tinggi dengan persenjataan berat, demikian tulis Smith.

Menurut salah satu penulis yang berpartisipasi dalam operasi tempur melawan LTTE, strategi dan pemikiran Angkatan Laut Sri Lanka di balik konsep perahu kecil sangat dipengaruhi oleh teori yang dikembangkan oleh insinyur Inggris selama Perang Dunia I. Hukum kuadrat Lanchester pada dasarnya menyatakan bahwa rasio korban bervariasi secara berbanding terbalik dengan rasio pasukan. Artinya, pasukan yang melebihi jumlah lawan dapat diperkirakan memperoleh lebih sedikit korban daripada lawan yang lebih lemah. Lanchester juga menunjukkan bahwa kemampuan persenjataan modern yang mampu beroperasi pada jarak jauh mengubah sifat pertempuran secara dramatis, dengan pasukan modern yang lebih kuat menjadi dua kali lipat lebih kuat. Teori dan serangkaian prinsip ini mendukung dengan sepenuhnya inisiasi dan pengerahan unit-unit perahu kecil Angkatan Laut Sri Lanka.

Mulai tahun 2006, Angkatan Laut Sri Lanka merekrut perwira dan Pelaut untuk mengoperasionalkan konsep perahu kecil. Dua jenis unit diciptakan — pertama, Skuadron Perahu Khusus (Special Boat Squadron – SBS) dan kemudian Skuadron Perahu Aksi Cepat (Rapid Action Boat Squadron – RABS). Anggota SBS menjalani pelatihan ekstensif, termasuk beberapa pelatihan lanjutan dari Pasukan Khusus Angkatan Laut A.S. (U.S. Navy Seals), Pasukan Khusus Angkatan Darat A.S. (U.S. Green Berets), dan pasukan komando India, demikian tulis Povlock. Misi mereka adalah menggunakan perahu kecil untuk melakukan pengintaian dan pengawasan di dalam wilayah LTTE. Anggota RABS dilatih untuk mengoperasikan perahu kecil menggunakan taktik pengerumunan, menggunakan hingga 30 perahu selama pertempuran melawan Macan Laut LTTE. Pada akhirnya pemerintah mampu melumpuhkan kekuatan LTTE; serangan terhadap Angkatan Laut Sri Lanka menurun secara stabil dan kemudian menurun secara tajam dari tahun 2006 hingga 2008. Taktik baru dengan menggunakan perahu kecil itu “menghancurleburkan Macan Laut,” demikian menurut Povlock.  Faktanya, “elemen penting dari kemenangan pemerintah adalah evolusi strategi interdiksi laut yang sukses oleh Angkatan Laut Sri Lanka (Sri Lanka Navy – SLN),” tulis Smith.

Langkah ke Depan

Angkatan Laut Sri Lanka terus mengevaluasi dan merencanakan peningkatan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Perjalanan yang ditempuh Sri Lanka dapat menjadi pelajaran, terutama bagi negara-negara dengan angkatan laut yang sedang berkembang yang menghadapi ancaman tradisional dan nontradisional dari laut.

Angkatan Laut Sri Lanka sengaja memilih untuk menyeimbangkan kembali ukuran dan ruang lingkup armada angkatan lautnya dengan membangun armada perahu kecilnya dan memaksimalkan kemampuan angkatan lautnya. Misalnya, konsep menggabungkan perahu yang lebih kecil dengan perahu yang lebih besar memberi Angkatan Laut Sri Lanka kemampuan yang lebih baik untuk melindungi kapal tradisionalnya, seperti fregat dan kapal perang, sembari memberikan kemampuan pertahanan yang tangguh melalui perahu kecil untuk mengatasi serangan nonkonvensional dari serangan teroris di laut.

Laksamana Madya Travis Sinniah dari Angkatan Laut Sri Lanka berbicara kepada jurnalis pada Agustus 2017.
AFP/GETTY IMAGES

Harus ada kesadaran yang lebih besar di dalam komunitas perikanan tentang pentingnya peran mereka di laut. Mereka harus lebih waspada dalam mengidentifikasi dan melaporkan setiap kegiatan yang mencurigakan atau ilegal. Kelalaian untuk melakukannya harus mendapatkan konsekuensi nyata berdasarkan supremasi hukum. Pemeriksaan dan akreditasi yang tepat bagi nelayan lokal dan kapal penangkap ikan mereka membatasi banyak kegiatan pasar gelap. Seiring dengan tema serupa tentang kesadaran dan kolaborasi, pendidikan dan koordinasi antara Angkatan Laut, Pasukan Penjaga Pantai, dan kepolisian juga dapat ditingkatkan agar setiap dinas memahami kemampuan pihak lain dan, mungkin, berpartisipasi dalam latihan bersama untuk menguji kemampuan terpadu dan bersama terhadap skenario berbasis ancaman.

Menciptakan lebih banyak peluang untuk melakukan dialog bersama juga merupakan kunci bagi tercapainya keamanan. Sri Lanka mengadakan simposium maritim internasional tahunan yang disebut Galle Dialogue, yang menjadi sarana untuk membahas ancaman teroris maritim. Dari perspektif regional Asia Selatan, topik ini harus menjadi bagian dari agenda pada Konferensi Regional Asia Selatan untuk memberikan kesempatan bagi diskusi yang mengarah pada pengaturan bilateral atau multilateral dan perjanjian pembagian sumber daya.

Sri Lanka, seperti negara-negara berkembang lainnya, memiliki peluang untuk terlibat dengan negara-negara mitra seperti India, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan bersama, pendidikan, dan pembagian intelijen guna berkolaborasi melawan ancaman teroris global.

Seperti dikatakan oleh ahli strategi militer Tiongkok kuno, Sun Tzu, “Seni perang mengajarkan kita untuk tidak bergantung pada kemungkinan tidak datangnya musuh, tetapi pada kesiapan kita sendiri untuk menerimanya; bukan karena kemungkinan dia tidak menyerang, tetapi lebih pada kenyataan bahwa kita telah membuat posisi kita tidak dapat diserang.”

Strategi kontraterorisme berkembang berdasarkan ancaman yang harus dipertimbangkan pemerintah. Meskipun ranah darat telah menjadi tempat kejadian dari banyak peristiwa teroris di masa lalu, ranah maritim mungkin menerima lebih banyak perhatian dari aktor jahat di masa depan. Pengalaman Angkatan Laut Sri Lanka melawan LTTE di laut harus memperkuat kenyataan bahwa bukan jika, tetapi kapan teroris akan menyerang pelabuhan, bandar, jalur perairan, dan bahkan di samudra terbuka. Penggunaan perahu-perahu kecil, meskipun tidak berteknologi tinggi atau mewah, untuk menghadapi ancaman semacam itu harus dikumandangkan pada negara-negara berkembang yang berjuang keras untuk menemukan cara mengubah ukuran, menyesuaikan kembali, dan menyeimbangkan kembali pasukan angkatan laut mereka untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi skenario terburuk.  

Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan pandangan dan pendapat penulis dan tidak mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Kementerian Pertahanan Sri Lanka atau lembaga pemerintah Amerika Serikat mana pun.

saham