Era Baru Penangkalan

Era Baru Penangkalan

Kembalinya persaingan kekuatan besar mengaburkan batasan antara konflik dan perdamaian

Kol. (Purn.) Arthur Tulak/Angkatan Darat A.S.

Dunia saat ini tidak berperang, tetapi juga tidak benar-benar dalam kondisi damai. Untuk membantu memvisualisasikan kompleksitas dan ruang lingkup lingkungan keamanan abad ke-21, kunjungi Pelacak Konflik Global (Global Conflict Tracker) online dari Council on Foreign Relations (halaman 14). Peta itu menunjukkan 25 konflik yang sedang berlangsung — enam di antaranya dinilai memiliki potensi dampak kritis terhadap kepentingan strategis A.S., dan enam di antaranya ditandai sebagai sengketa teritorial. Sengketa ini termasuk konflik ketika Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Rusia yang berhaluan komunis mengajukan klaim atas wilayah berdaulat atau hak maritim negara-negara lain, tetapi tidak semua sengketa yang belum terselesaikan tersebut dimasukkan, sehingga konflik saat ini dan potensi konflik sebenarnya lebih banyak jumlahnya.

Strategi Keamanan Nasional (National Security Strategy – NSS) A.S., yang diterbitkan pada Desember 2017, dan Strategi Pertahanan Nasional, yang diterbitkan pada Maret 2018, telah mempertajam fokus nasional pada persaingan dan konflik antarnegara dan meningkatkan kebutuhan untuk penangkalan yang efektif.

Prajurit Ukraina membawa salib untuk ditempatkan di depan Kedutaan Besar Rusia di Kiev, Ukraina, pada 29 Agustus 2018, untuk melambangkan Prajurit Ukraina yang gugur dalam perang yang sedang berlangsung di Ukraina bagian timur. THE ASSOCIATED PRESS

Dalam pendekatan baru itu, penangkalan kembali menjadi prioritas dalam menanggapi tindakan agresif dan kebijakan negara-negara besar yang berusaha merongrong dan menggulingkan tatanan dunia saat ini. 

Bangkitnya kembali minat pada penangkalan sejalan dengan kemunduran dalam lingkungan keamanan, yang oleh Angkatan Darat A.S. telah digambarkan sebagai “dunia yang kompleks” yang terus berubah, ketika musuh yang diantisipasi beroperasi dengan keunggulan lini interior, sembari juga menerjunkan sistem tempur yang semakin modern dan meningkat kemampuannya. Tidak mengherankan, di Eropa, tempat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menghadapi kebangkitan dan revisionis Rusia, penangkalan hadir kembali ketika NATO sekali lagi mengkaji ulang peran penangkalan untuk mencegah perang. Di Indo-Pasifik, A.S. dan sekutu serta mitranya berkolaborasi untuk menangkal RRT yang berupaya melakukan ekspansi lebih lanjut ke arah timur dengan mengorbankan negara-negara tetangganya, dan terus berkembangnya klaim ruang udara dan laut RRT yang diperoleh melalui cara militer.

NSS 2017 mencantumkan musuh potensial Amerika Serikat dengan urutan sebagai berikut: Tiongkok dan Rusia, diikuti oleh Korea Utara dan Iran, yang semuanya telah mengalami pertumbuhan luar biasa dalam kemampuan militer utama yang dirancang untuk melawan strategi, operasi, akses medan, konsep perang, dan sistem persenjataan A.S. Demikian juga, rencana strategis gabungan Departemen Luar Negeri A.S. dan Badan Pembangunan Internasional A.S. (USAID) menyiratkan bahwa RRT mengancam tatanan berbasis aturan internasional.

Di seluruh dunia, Amerika Serikat menghadapi musuh yang memiliki kemampuan hampir setara yang berusaha mematahkan aliansi A.S. dan mengalahkan sekutu dan mitra keamanan A.S. di bawah ambang batas konflik bersenjata, menggunakan perang hibrida, yang “menantang metrik penangkalan tradisional dengan melakukan operasi yang membuat perbedaan antara perdamaian dan perang menjadi tidak jelas,” demikian menurut doktrin Angkatan Darat A.S.  

NSS 2017 secara konsisten mengidentifikasi RRT dan Rusia sebagai menantang kekuatan, pengaruh, dan kepentingan A.S. sembari berupaya mengikis keamanan dan kemakmuran A.S. NSS juga mengarakterisasi kedua negara itu sebagai “kekuatan revisionis” dan menyatakan bahwa RRT berupaya untuk “menggusur Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.” Karakteristik bersama dari kedua negara itu adalah penggunaan perang hibrida dalam persaingan masa damai untuk mencapai tujuan militer di bawah ambang batas yang akan memicu respons militer langsung dan potensi konflik militer yang lebih besar, demikian menurut Konsep Kampanye Terpadu Gabungan Kepala Staf Gabungan A.S. yang diterbitkan pada Maret 2018. Ketika musuh potensial A.S. terus mengejar ketinggalan terhadap kemampuan A.S. dan melakukan penaklukan wilayah yang agresif, “risiko benar-benar mengalami perang besar jauh lebih signifikan daripada sebelumnya,” ungkap Michael Mazarr, seorang
analis Rand.

Perang Hibrida

Strategi Militer Nasional A.S. yang diterbitkan pada tahun 2015 adalah strategi pertama yang menyebut tentang perang hibrida. Perang hibrida digambarkan sebagai perpaduan dari geng konvensional, non-konvensional, penegak hukum, dan kriminal, perang informasi, perang media, dan bahkan cara dan metode teroris dalam tindakan disengaja yang dilakukan oleh militer, paramiliter, tentara bayaran, dan pasukan nonmiliter untuk mencapai tujuan militer tradisional, termasuk pengendalian atau penaklukan teritorial. Perang hibrida berupaya menciptakan ketidakpastian dengan meningkatkan ambiguitas tujuan nasional dan keterlibatan resmi, memberikan penyangkalan yang masuk akal. Perang hibrida juga berupaya menyulitkan pengambilan keputusan musuh tentang cara merespons dengan tepat dan memperlambat koordinasi respons yang efektif.

Dengan cara ini, negara-negara yang mengerahkan perang hibrida melakukan operasi dengan cara yang dirancang untuk menghindari memicu konflik militer yang lebih besar. Seperti yang dikatakan oleh Menteri Pertahanan A.S. saat itu Jim Mattis, kekuatan revisionis dan rezim jahat saat ini mengerahkan teknik perang hibrida seperti “korupsi, praktik ekonomi predator, propaganda, subversi politik, proksi, dan ancaman atau penggunaan kekuatan militer untuk mengubah fakta di lapangan.” 

Pesawat jet tempur J15 memadati kapal induk pengangkut pesawat terbang pertama yang dioperasikan Republik Rakyat Tiongkok, Liaoning, pada April 2018 sebagai bagian dari latihan tempur dengan amunisi aktif di Laut Cina Timur yang memicu kegusaran negara-negara tetangganya. AGENCE FRANCE-PRESSE

Sebagaimana digunakan oleh RRT dan Rusia, perang hibrida mengganggu dan menghindari upaya penangkalan tradisional dengan menggunakan kombinasi pihak pengganti dan proksi, bersama dengan pasukan militer, paramiliter, dan nonmiliter yang didukung oleh perang informasi, subversi, paksaan, dan perang non-konvensional. Konsep Kampanye Terpadu Gabungan A.S. memprediksi bahwa persaingan antarnegara yang menantang Amerika Serikat akan terus berlanjut dan bertahan lama dan bahwa musuh akan terus menggunakan teknik perang hibrida dan paksaan dalam mencapai tujuan strategis mereka.

Rezim diktator sekarang berupaya melakukan penaklukan teritorial dengan cara militer secara simultan di medan Eropa dan Pasifik untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II. RRT, menggunakan armada pengerukan samudra terbesar di dunia, telah menciptakan pulau-pulau buatan di atas fitur maritim yang berada dalam zona ekonomi eksklusif negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan sangat jauh dari pantai Tiongkok. Setelah memperoleh pulau-pulau itu dengan perang hibrida, RRT membangun landasan udara yang mampu menangani pesawat pengebom strategis antarbenua, memasang tempat perlindungan pesawat tempur yang diperkuat pengamanannya, rudal anti-pesawat terbang dan anti-kapal, dan banyak lagi. Salah satu contoh paling terkenal dari pertarungan ini adalah Scarborough Shoal, yang hanya berjarak 354 kilometer dari Manila, ibu kota Filipina, tetapi 2.658 kilometer dari pantai terdekat Tiongkok. Fitur maritim ini, yang dulunya merupakan tempat penangkapan ikan populer bagi nelayan Filipina, sekarang dipatroli oleh Milisi Maritim Angkatan Bersenjata Rakyat RRT dan Pasukan Penjaga Pantai Kepolisian Bersenjata Rakyat Tiongkok — keduanya diawasi dari kejauhan oleh Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat. RRT telah secara ekstensif melakukan militerisasi pada pos-pos terluar lainnya di Kepulauan Paracel dan Laut Cina Selatan sehingga meningkatkan ketegangan di kawasan itu. 

Di Eropa, Rusia menggunakan perang hibrida untuk mendukung perebutan Krimea dari Ukraina pada tahun 2014, dan untuk memulai dan memicu pemberontakan di kawasan Donbass di Ukraina timur. Di sana, Rusia telah mengerahkan senjata perang elektronik canggih dan kendaraan udara tak berawak untuk mendukung penargetan dan pengintaian, tank modern, dan bahkan sistem rudal anti-pesawat terbang canggih. Sistem rudal ini, yang diawaki oleh tentara Rusia yang menyamar sebagai separatis, berhasil menembak jatuh pesawat Malaysia Airlines Nomor Penerbangan 17, menewaskan 298 warga sipil pada tahun 2014. Rusia mendorong perang hibrida mereka ke daerah baru dengan menggunakan tentara bayaran di Suriah untuk meluncurkan serangan darat terhadap pasukan A.S., dan serangan perang elektronik terhadap pesawat terbang A.S. meningkat, demikian yang dilaporkan Jane’s Defence Weekly. 

Apa yang sangat mengkhawatirkan dari contoh-contoh perang hibrida di atas adalah bahwa setelah menguasai wilayah dengan menggunakan pasukan hibrida dalam operasi militer, RRT dan Rusia kemudian mengerahkan kemampuan militer canggih yang baru saja diuraikan untuk menduduki dan mempertahankan wilayah yang mereka peroleh. RRT dan Rusia kemudian memproyeksikan kekuatan tempur di sepanjang lingkar jangkauan yang terus berkembang, memperluas kendali ruang pertempuran mereka melalui kemampuan anti-akses dan penolakan area (anti-access and area denial – A2/AD), sembari menggunakan beragam strategi yang akan menunda dan menyulitkan pengerahan militer A.S. dalam kondisi krisis. 

Konsep penangkalan konvensional sedang ditantang dengan cara-cara baru oleh perang hibrida, ketika lawan menggunakan metode ini untuk terus mencapai kemenangan teritorial, tanpa berperang, sembari mengubah geometri medan pertempuran untuk keunggulan tempur mereka di masa depan, semisal terjadi konflik bersenjata.

Zona abu-abu 

Dari contoh-contoh sebelumnya, jelas terlihat bahwa A.S. terjerat dalam konflik baru dengan RRT dan Rusia terkait perbedaan ideologis, konflik yang dilaksanakan dengan metode yang tidak menggunakan aksi militer terang-terangan secara berkelanjutan tanpa memutus hubungan diplomatik. Penangkalan konvensional tradisional yang dirancang untuk menangkal konflik bersenjata sebagian besar telah gagal untuk menangkal perang hibrida yang berhasil digunakan oleh RRT dan Rusia.

Konsekuensi dari strategi penangkalan yang gagal itu adalah siklus yang tampaknya terjadi secara terus-menerus dari negara-negara pesaing yang menggunakan perang hibrida untuk merampas wilayah guna mengendalikan ruang pertempuran, diikuti oleh rangkaian ancaman A2/AD melalui pengerahan sistem persenjataan untuk menangkal akses masuk, didukung oleh kampanye informasi reguler yang menyerang kekuatan dan kohesi aliansi dan kemitraan keamanan A.S. Amerika Serikat dan sekutunya memiliki kebutuhan mendesak untuk memutus siklus itu melalui penangkalan, dan upaya ini harus dilakukan selama fase persaingan (masa damai). NSS A.S. yang baru membahas mengenai hal ini, menyoroti bahwa penangkalan saat ini “jauh lebih kompleks untuk dicapai daripada selama Perang Dingin.”

Lingkungan keamanan baru pada abad ke-21 menghadirkan kondisi baru “penangkalan tertantang,” yang telah didefinisikan oleh Angkatan Darat dan Korps Marinir A.S. sebagai “efektivitas penangkalan konvensional A.S. yang dipertanyakan baik oleh penggunaan tindakan di bawah ambang batas konflik yang dilakukan musuh untuk mencapai tujuan strategis, maupun oleh kemampuan potensial musuh untuk melakukan tindakan agresif dan mengonsolidasikan keuntungan dengan cepat sebelum A.S. dan sekutu dapat merespons.” 

Konsep penangkalan tertantang itu menyoroti dampak subversi, perang informasi, perang hibrida, dan non-konvensional pada penangkalan konvensional, ketika negara yang menggunakan metode ini akan menggunakan cara dan metode hibrida untuk mengeksploitasi peluang, sementara itu secara bersamaan menghindari tanggung jawab dan keterlibatan dalam tindakan pasukan hibrida.

Opsi Respons A.S.

Konsep tradisional penangkalan sangat jelas, seperti yang dijelaskan oleh para analis di Brookings Institution: “Membujuk musuh potensial bahwa risiko dan biaya dari tindakan yang diusulkannya jauh lebih besar daripada keuntungan apa pun yang mungkin ingin dicapai.” Mazarr dari Rand menyediakan kerangka kerja penangkalan, menjelaskan bahwa penangkalan bisa bersifat langsung atau diperluas, umum atau segera. Penangkalan langsung ditandai oleh upaya untuk mencegah musuh menyerang A.S. dan wilayah serta harta bendanya, sementara penangkalan yang diperluas bertujuan untuk menangkal serangan dan agresi terhadap sekutu dan mitra A.S. Penangkalan yang diperluas lebih menantang daripada penangkalan langsung, dengan mengandalkan proyeksi pasukan kredibel yang dapat diandalkan untuk memperkuat sekutu atau mitra yang terancam. Ketika penangkalan yang diperluas A.S. gagal, seperti yang terjadi dalam Perang Korea dan sebelum operasi Desert Shield, maka akan diikuti oleh perang yang mahal. Menurut Mazarr, penangkalan umum adalah upaya mapan dalam fase persaingan, atau dalam situasi non-krisis. Sebaliknya, penangkalan segera adalah upaya jangka pendek dan mendesak untuk mencegah serangan yang akan segera terjadi yang akan dianggap sebagai fase krisis. Pengerahan pasukan dan kemampuan ke garis depan yang melakukan penangkalan umum dalam fase persaingan menyediakan pasukan terlatih dan siap tempur yang dapat merespons krisis untuk penangkalan segera. 

Telah muncul beberapa pelajaran yang dapat dipetik mengenai penangkalan perang hibrida, demikian kesaksian yang diberikan oleh Dr. Christopher Chivvis, seorang ilmuwan politik senior Rand Corp., pada tahun 2017 di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR A.S. Pertama, pasukan militer saja tidak dapat menangkal strategi perang hibrida: Para ahli berpendapat bahwa penangkalan yang efektif akan membutuhkan upaya dan kemampuan nonmiliter, seperti diplomasi dan bantuan asing. Kedua, menanggapi tindakan perang hibrida dengan sekadar mengerahkan pasukan ke daerah kejadian biasanya tidak cukup, meskipun dikerahkan dengan cepat, karena tindakan musuh ini dirancang untuk terungkap “di bawah radar,” dengan sengaja menunda dan membingungkan pembuatan keputusan Amerika Serikat dan sekutu untuk mencapai tujuan sebelum pasukan yang bersahabat mampu menegaskan pengaruhnya.

Ketiga, strategi perang hibrida senantiasa berlangsung, tersebar di seluruh ruang pertempuran, memodulasi amplitudo aksi, mengambil keuntungan dari peluang di zona abu-abu di antara perdamaian dan krisis, yang saat ini dikenal sebagai “fase persaingan,” dan penggunaan pasukan militer pada peristiwa yang diakui sebagai krisis yang membutuhkan respons militer segera.

Konsep Kampanye Terpadu Gabungan menjelaskan bahwa “persaingan di bawah [ambang batas] konflik bersenjata membutuhkan cara berpikir yang berbeda tentang eskalasi dan penangkalan” dan menyediakan kerangka kerja tiga pilar untuk operasi militer dalam fase persaingan — tentang, lawan, dan tingkatkan. Contohnya, saat ini dimungkinkan untuk mempertahankan atau mengurangi efek dari serangan siber. Akan tetapi, penangkalan perlu difokuskan pada pembentukan perilaku aktor yang ditargetkan dan tindakan penangkalan (secara individu atau sebagai bagian dari kampanye yang lebih besar) di atas ambang batas tertentu, dan bukannya mencegah semua bentuk serangan siber, yang tidak mungkin dilakukan. 

Penangkalan dalam dunia kompleks yang ditandai oleh perang hibrida dan A2/AD dapat dicapai dengan melakukan operasi dan kegiatan militer dalam fase persaingan yang dirancang untuk mencapai efek dalam kerangka kerja ini. Upaya untuk mencegah pesaing mencapai tujuannya dan meningkatkan posisi strategis keseluruhan, upaya untuk mencegah musuh mencapai keuntungan lebih lanjut, dan upaya menentang tindakan musuh yang berusaha untuk mendapatkan kemungkinan hasil strategis (sasaran kebijakan) terbaik, sembari mengelola risiko.

Upaya pencegahan dalam persaingan dapat dicapai dengan menggunakan pasukan konvensional untuk memperkuat kemampuan konvensional dan tidak beraturan dari sekutu dan mitra A.S. dan dengan beroperasi di area atau ruang yang ingin dikendalikan oleh musuh. Komando Pelatihan dan Doktrin Angkatan Darat A.S. menjelaskan pendekatan ini sebagai “menunjukkan kemampuan untuk mengubah ruang yang dapat ditolak musuh menjadi ruang yang disengketakan dan menunjukkan kemampuan untuk bermanuver dari jarak operasional dan strategis.”

Dalam lingkungan yang kompleks ini, upaya penangkalan untuk menentang tindakan musuh akan membutuhkan tindakan yang dapat diamati, karena model postur pasukan medan statis saja tidak cukup untuk menangkal perang hibrida. Yang diperlukan untuk mengalahkan agresi adalah dengan secara aktif mengacaukan sistem musuh yang memungkinkan pendekatan operasionalnya untuk menggunakan perang hibrida.

Tugas yang Menantang

Jika A.S. dan sekutu serta mitranya berniat menghentikan kemajuan musuh, perang hibrida harus ditentang dengan lebih dari sekadar demonstrasi pasukan dan kemampuan. Kemajuan musuh di garis depan harus diblokir dengan mengubah area yang menurut musuh dikendalikan atau dapat dikendalikan menjadi ruang yang disengketakan. Penangkalan efektif, yang mencegah musuh mengerahkan perang hibrida, atau memulai konflik bersenjata terbuka, mengharuskan A.S. dan sekutu serta mitranya mengalahkan sistem musuh selama fase persaingan masa damai.

Rusia sekarang dalam keadaan konfrontasi permanen dengan Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya, demikian menurut Jenderal Valery Gerasimov, kepala staf angkatan darat Rusia. Agresi Rusia yang biasa disebut Doktrin Gerasimov baru-baru ini ditampilkan pada 26 November 2018, ketika kapal pasukan penjaga pantai Rusia menabrak, menembaki, naik, dan menyita tiga kapal Angkatan Laut Ukraina yang melakukan transit secara damai di Selat Kerch yang disengketakan yang memisahkan Laut Azov dan Laut Hitam. Kapal-kapal penegak hukum Rusia menggunakan asimetri pasukan untuk menyerang kapal-kapal militer Ukraina, melukai dua pelaut, memenjarakan awak kapal, dan menyita kapal-kapal itu, demikian yang dilaporkan Associated Press. 

Di Indo-Pasifik, Tiongkok yang berhaluan komunis telah meningkatkan ketegangan, menunjukkan “mentalitas Perang Dingin” yang dituduhkannya kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Berbicara sebagai panglima tertinggi pasukan militer Tiongkok, selama tur di beberapa komando militer, Xi Jinping mengatakan kepada para laksamana dan jenderalnya untuk “mempersiapkan perang” dan untuk meningkatkan perlawanan terhadap operasi Kebebasan Navigasi A.S. di perairan internasional, demikian menurut laporan Australia News Corporation. Ancaman aksi militer Xi itu menyusul manuver agresif aktual yang dilakukan oleh Lanzhou, Kapal Perusak Kelas Luyang Angkatan Laut Tiongkok, terhadap USS Decatur pada 30 September 2018. Konfrontasi berbahaya itu melanggar Konvensi tentang Peraturan Internasional untuk Mencegah Tabrakan di Laut dan Pedoman untuk Pertemuan yang Tidak Terencana di Laut, yang ditandatangani Tiongkok pada tahun 2014, demikian menurut laporan Maritime Executive pada Oktober 2018.

Arah Masa Depan 

Dengan serangkaian strategi keamanan, pertahanan, dan diplomasi terbaru, A.S. memiliki kerangka kerja yang koheren untuk melawan kegiatan musuh. Lebih banyak sumber daya, termasuk pasukan yang lebih besar, dibutuhkan untuk mengimplementasikan kebijakan ini dan memungkinkan strategi ini. Saat ini dunia menjadi lebih kompleks, lebih fluktuatif, tidak pasti, dan ambigu daripada bertahun-tahun sebelumnya. Jenderal Martin Dempsey, ketua Kepala Staf Gabungan saat itu, mengatakan bahwa lingkungan keamanan global saat ini merupakan lingkungan “yang paling tak terduga yang pernah saya lihat dalam 40 tahun berdinas.” Ini merupakan kondisi keamanan yang harus diikuti oleh para profesional militer dan warga.  


Penangkalan sebagai prakarsa yang kompleks dan berbeda

Konsep penangkalan tradisional di era modern dicontohkan oleh “konflik beku” garis depan Perang Dingin di sepanjang perbatasan dalam negeri Jerman dan Korea. Laporan Rand Corp. pada tahun 2008 memprediksikan bahwa penangkalan sekali lagi akan tampil secara menonjol dalam strategi keamanan dan pertahanan nasional A.S. dan menyarankan bahwa memahami logika penangkalan Perang Dingin akan sangat penting untuk mengembangkan penangkalan yang efektif terhadap pesaing yang memiliki kemampuan setara/hampir setara, kekuatan regional, dan aktor non-negara. Karakter konflik beku ini adalah bahwa pasukan konvensional yang ditempatkan di garis depan siap untuk terlibat dalam pertempuran di dalam geometri tiga bidang keterlibatan medan perang yang dikenal dengan baik: dekat, dalam, dan belakang. Dalam situasi ini, pasukan konvensional, yang didukung oleh pasukan nuklir taktis, medan, dan strategis, menahan pasukan lawan dari jarak jauh. 

Pelaut Angkatan Laut A.S. mengawasi perairan dari anjungan operasi USS Carl Vinson selama latihan kebebasan navigasi rutin di Laut Cina Selatan pada Maret 2017. REUTERS

Ruang pertempuran ekstensif yang menjadi fokus bagi NATO dan militer Pakta Warsawa dibatasi di bagian utara dan selatan oleh laut Baltik dan Mediterania, diorganisasikan ke dalam sektor-sektor Grup Angkatan Darat, dan dipisahkan oleh Tirai Besi. Pasukan yang siap siaga dan ditempatkan di garis depan, didukung dengan persediaan perang yang sudah disiapkan sebelumnya, melakukan latihan tahunan untuk mempraktikkan rencana perang dan menunjukkan kesiapan segera. Ini juga telah menjadi model bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Komando Pasukan Gabungan, yang menempatkan pasukan Amerika Serikat dan Korea Selatan untuk siap mengambil tindakan di sepanjang Zona Demiliterisasi (DMZ) guna melawan militer Korea Utara. Medan tempur Perang Dingin ini cocok dengan pola ruang pertempuran yang berdekatan, terdefinisi dengan baik, dan sebagian besar terkurung, dengan sedikit ruang untuk bermanuver karena kurangnya ruang yang tidak disengketakan di garis depan. Dalam kedua kasus, perbatasan merupakan lini pertahanan pertama dalam postur “pertahanan ke depan.”   

Medan tempur Perang Dingin dari konflik-konflik beku ini tidak melihat pergerakan garis depan, yang tetap statis sampai berakhirnya Perang Dingin di Eropa dan masih ditempatkan hingga sekarang di Semenanjung Korea. Ruang yang disengketakan itu sesekali dipenuhi oleh kobaran api mendadak, demonstrasi di dekat medan perang utama, dan oleh perang proksi di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah. Sebagai perbandingan, garis depan lingkungan keamanan abad ke-21 sedang berubah, karena perbatasan nasional digeser oleh cara dan metode perang hibrida yang tidak beraturan, dan kemudian dikuasai dan dipertahankan oleh pasukan militer konvensional dan kemampuan anti-akses dan penolakan area (A2/AD). 

Dengan pengecualian DMZ di Semenanjung Korea tempat Perang Dingin pertama tidak pernah berakhir, ruang pertempuran saat ini di Indo-Pasifik ditandai dengan pasukan yang berlawanan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Sebagian besar ruang pertempuran, atau ruang persaingan itu, yang berada di antara berbagai pasukan ini disengketakan, seperti yang ditunjukkan oleh operasi kebebasan navigasi Angkatan Laut A.S., klaim teritorial tumpang tindih, dan upaya berbagai negara untuk menegaskan kontrol fisik dalam mendukung klaim mereka. Lingkungan ini memberikan banyak peluang bagi musuh yang beroperasi sesuai dengan aturan perang hibrida mereka sendiri.

saham