India dan Indonesia memperkuat hubungan pertahanan

India dan Indonesia memperkuat hubungan pertahanan

Hamid Sellak

India dan Indonesia terus memperkuat hubungan pertahanan dan keamanan pada awal tahun 2018.

Dialog keamanan pertama kedua negara pada 9 Januari 2018 menandai fase lain dalam serangkaian pertemuan dan kesepakatan terkait yang telah mereka capai dalam beberapa dekade terakhir. Upaya ini juga sejalan dengan 25 tahun hubungan India dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), kelompok antarpemerintah yang beranggotakan Indonesia dan sembilan negara lainnya.

“Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari beberapa kesepakatan antara Indonesia dan India untuk peningkatan kerja sama antara kedua negara,” kata Menkopolhukam Indonesia Jenderal Wiranto dalam sebuah pernyataan yang disiapkan. Dia menggambarkan pertemuan itu secara lebih lanjut sebagai “sangat konstruktif, dengan langkah konkret yang akan dilakukan kedua negara dalam melawan terorisme, keamanan maritim, keamanan siber, dan kerja sama pertahanan.”

Wiranto, yang hanya memiliki nama depan, menjabat sebagai menteri koordinator bidang politik, hukum, dan keamanan Indonesia. Dia memimpin dialog tersebut bersama dengan penasihat keamanan nasional India, Ajit Doval.

Dialog tersebut dilakukan menyusul kunjungan kenegaraan Presiden Indonesia Joko Widodo ke India pada Desember 2017 atas undangan Perdana Menteri India Narendra Modi. Dalam kunjungan tersebut, kedua pemimpin sepakat mengenai pentingnya melakukan kerja sama bilateral dalam menghadapi tantangan keamanan bersama.

“Dialog keamanan adalah bagian dari kerja sama keseluruhan yang lebih besar,” kata Prateek Joshi, peneliti senior dari kelompok cendekiawan yang berbasis di Delhi, Vivekananda International Foundation. “Isu utama yang menjadi perhatian adalah radikalisme agama dan terorisme, serta topik yang berkaitan dengan Tiongkok.’’

Indonesia dan India, masing-masing memiliki dua komunitas Muslim terbesar di dunia, demikian yang dikatakan Joshi dalam sebuah pembicaraan dengan FORUM. “Di antara populasi ini, ada kantong radikal yang relatif kecil namun signifikan, dan ada ruang untuk kerja sama di sana.”

Sebelumnya pada awal Januari, Menteri Luar Negeri India Sushma Swaraj berada di Jakarta untuk menghadiri Pertemuan Komisi Bersama ke-5 Antara Indonesia dan India. Dalam pertemuan itu, kedua negara, dalam sebuah pernyataan bersama oleh Swaraj dan mitranya dari Indonesia, Retno Marsudi, “dengan tegas mengutuk terorisme dalam segala bentuk dan meminta semua negara untuk berhenti memberikan sponsor negara kepada terorisme dan mencegah wilayah mereka digunakan untuk membangun tempat perlindungan yang aman bagi teroris.”

Panduan kerja sama keamanan maritim, yang penting bagi 17.000 pulau di Indonesia dan 7.500 kilometer garis pantai di India, dipresentasikan selama kunjungan Joko Widodo. Vision Document 25 merekomendasikan patroli maritim gabungan, pertukaran reguler dan latihan bersama, pembagian intelijen, dan produksi bersama peralatan dan sistem pertahanan.

Namun, tidak ada pernyataan sikap bersama mengenai masalah kedua negara dengan Tiongkok, demikian ungkap Joshi, menambahkan bahwa “Indonesia tidak akan menentang Tiongkok secara terbuka guna mendukung India.”

Kebijakan perdagangan dan luar negeri Tiongkok menimbulkan kekhawatiran India dan Indonesia dan anggota-anggota ASEAN. Namun, menurut Joshi, praktik Tiongkok yang menangani setiap negara secara individu telah mencegah ASEAN untuk berbicara tentang Tiongkok dengan satu suara tunggal.

Anggota ASEAN mencakup Brunei, Myanmar, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. ASEAN bekerja sama dengan India dalam Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-India dan mekanisme lainnya.

“India memang bisa menjadi alternatif bagi Tiongkok sebagai mitra kuat di kawasan ini,” katanya. “Jika India berhasil memperkuat hubungan dengan Indonesia, ini bisa membangun kepercayaan dengan negara-negara ASEAN lainnya.”

India mempromosikan Kebijakan Bertindak ke Timurnya (Act East Policy), yang bertujuan untuk memperkuat hubungan multifaset dengan negara-negara anggota ASEAN, dan merayakan ulang tahun ke-25 hubungannya dengan kelompok tersebut dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-India baru-baru ini, yang diadakan di New Delhi pada 25 Januari 2018. (Foto: Menteri Pertahanan India Nirmala Sitharaman, kanan, menyambut Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu di Kementerian Pertahanan India di New Delhi pada 19 Januari 2018.)

Satu hal yang mencuat di antara anggota ASEAN, demikian kata Joshi, adalah situasi sulit yang dialami penduduk Rohingya di Myanmar.

“India berada dalam posisi yang baik untuk menengahi perbedaan dalam masalah ini,” katanya, “dan membantu ASEAN untuk berbicara dengan satu suara, sesuatu yang dibutuhkan  ASEAN.”

Hamid Sellak merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Malaysia.

saham