Jepang mengeluarkan lebih banyak pendanaan untuk membantu P.B.B. memerangi perdagangan narkoba

Jepang mengeluarkan lebih banyak pendanaan untuk membantu P.B.B. memerangi perdagangan narkoba

Felix Kim

Jepang menanamkan investasi yang lebih besar untuk mengatasi perdagangan narkoba ilegal di dalam dan di luar negeri ketika negara pulau itu berupaya mengatasi meningkatnya jumlah penangkapan terkait narkoba.

Meskipun selera negara itu terhadap narkoba terlarang masih kecil dibandingkan dengan sebagian besar negara maju, Tokyo merasa prihatin dengan perdagangan gelap narkotika dan zat psikoaktif. Dari Pakistan, Uzbekistan hingga Ghana, Jepang telah mendukung inisiatif yang diselenggarakan oleh Kantor PBB untuk Obat-obatan dan Kejahatan (UNODC) yang bertujuan untuk mengatasi sindikat kejahatan ini dengan menaikkan tingkat kontribusi keuangannya selama setahun terakhir ini.

Stimulan yang dikenal sebagai metamfetamin kristal ditemukan di Jepang. Narkoba itu diproduksi untuk pertama kalinya oleh ahli kimia Akira Ogata pada tahun 1919, demikian menurut UNODC. Permintaan “shabu kristal” di Jepang telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, demikian yang baru-baru ini dilaporkan oleh surat kabar The Japan Times. Akan tetapi penangkapan ganja telah meningkat, naik dari 2.536 pada tahun 2016 menjadi 3.008 pada tahun 2017, demikian menurut Badan Kepolisian Nasional Jepang. Permintaan opium resep juga naik, demikian menurut perusahaan riset pasar yang berbasis di Tokyo, Fuji Keizai. Perusahaan itu memproyeksikan opium resep menjadi bisnis bernilai miliaran dolar pada tahun 2024, menyebabkan beberapa pihak memprediksi berkembangnya pasar jalanan.

Mengingat masa depannya, Jepang telah mengambil langkah-langkah internasional, demikian yang diamati Jeffery Hornung, ahli masalah Jepang di Rand Corp. “Untuk mencegah agar sejumlah situasi dan negara tidak menjadi akar penyebab konflik dan perang,” ujar Hornung, “mereka mencoba menangani masalah kemasyarakatan. Jadi, di situlah mereka mencoba memerangi narkoba, perdagangan manusia, penyakit menular, kemiskinan. Mereka mencoba menangani semua masalah ini sehingga tidak menjadi masalah keamanan nasional di kemudian hari.”

Untuk tahun 2018, Jepang telah menjanjikan kontribusi anggaran tambahan untuk UNODC sebesar 414,2 miliar rupiah (28,4 juta dolar A.S.), naik 25 persen dari tahun 2017, demikian yang dilaporkan P.B.B.

“UNODC akan mampu melaksanakan secara lebih lanjut pekerjaan pentingnya di Asia dan Afrika serta di Afganistan dan negara-negara tetangganya berkat berkembangnya kemitraan kami dengan Jepang dan meningkatnya dukungan pendanaan yang disediakan oleh pemerintah Jepang,” ungkap Direktur Eksekutif UNODC Yury Fedotov pada Februari 2018.

Sebagian kontribusi Jepang terhadap UNODC secara historis telah disediakan oleh Pusat Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba (Drug Abuse Prevention Centre – DAPC) Jepang, yang mengalokasikan uang untuk mengurangi permintaan narkoba di negara-negara yang ditargetkan. Di dalam negeri, DAPC sangat terlibat dalam pencegahan narkoba dan dalam menyelenggarakan pertukaran pendidikan internasional untuk pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Di Pakistan, Jepang menyumbangkan 53,9 miliar rupiah (3,7 juta dolar A.S.) kepada Kantor Negara UNODC untuk beberapa proyek, termasuk memperkuat keamanan perbatasan untuk mencegah perdagangan narkoba, meningkatkan keamanan kargo udara, dan memerangi aktivitas kriminal terkoordinasi lintas perbatasan.

Perwakilan UNODC di Pakistan, Cesar Guedes, memuji kontribusi Jepang yang membantu membangun “komunitas yang lebih aman, bebas dari ancaman yang ditimbulkan oleh perdagangan narkotika ilegal dan kejahatan transnasional terorganisasi.” (Foto: Cesar Guedes dari Kantor PBB untuk Obat-obatan dan Kejahatan, kiri, berjabatan tangan dengan Takashi Kurai, duta besar luar biasa dan berkuasa penuh Jepang untuk Pakistan.)

Di Uzbekistan, pada Juni 2018 Jepang membiayai pembelian 30 kendaraan dan berbagai peralatan khusus yang digunakan dalam tim-tim bergerak antarlembaga. UNODC melaporkan bahwa enam tim akan melakukan patroli dan operasi bersama di seluruh Uzbekistan untuk memerangi perdagangan narkoba.

Jepang merasa nyaman bekerja di Asia Tengah, demikian ungkap Hornung. “Upaya itu memberikan semacam penyeimbang bagi Tiongkok, bahkan Rusia. Dan, Jepang tidak memiliki masalah keamanan nasional atau masalah sejarah apa pun yang dihadapi Jepang di area lain.”

Hal yang sama berlaku untuk Afrika, tempat UNODC melaporkan bahwa kontribusi Jepang diberikan untuk membeli sepasang perahu patroli guna memerangi kejahatan maritim yang mencakup perampokan, pembajakan, penyelundupan migran, dan perdagangan narkoba.

Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.

saham