Kerja sama industri pertahanan Korea Selatan dan A.S. berevolusi untuk memenuhi tantangan baru

Kerja sama industri pertahanan Korea Selatan dan A.S. berevolusi untuk memenuhi tantangan baru

Felix Kim

Industri pertahanan Korea Selatan dan A.S. telah bekerja dengan erat selama beberapa dekade, yang mencerminkan aliansi militer yang kuat antara kedua negara. Ketika industri dan ancaman bersama terhadap kedua negara telah berevolusi seiring berjalannya waktu, karakter kolaborasi juga telah berubah.

Kondisi saat ini menempatkan tantangan baru dalam kemitraan yang menurut orang dalam akan memperkuat aliansi dan menciptakan sinergi baru di antara kedua industri pertahanan tersebut.

Jeon Jei-guk, kepala Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (Defense Acquisition Program Administration- DOKA) Korea Selatan, menggambarkan iklim saat ini di Indo-Asia-Pasifik sebagai situasi yang “sangat tidak menentu,” ketika negara-negara yang lebih kuat berusaha memperluas pengaruh dan Korea Utara mengancam stabilitas seluruh kawasan dengan program rudal dan senjata nuklirnya. Dia berbicara di Pusat Studi Strategis dan Internasional (Center for Strategic and International Studies – CSIS) di Washington, D.C., pada 11 Desember 2017. Ikatan pertahanan yang kuat antara Korea Selatan-A.S. adalah kunci untuk menghindari bencana dalam kondisi seperti itu, demikian ujarnya, namun dibutuhkan pula beberapa evolusi di area ini.

“Aliansi itu harus menjadi kemitraan yang lebih seimbang dan sehat,” kata Jeon dalam pidatonya. Munculnya ancaman dan teknologi baru telah membawa “era krisis atau peluang. Kedua negara kita telah memperluas ruang lingkup kerja sama. Cara kita bekerja sama juga harus berevolusi.”

Jeon menekankan perlunya penelitian dan produksi bersama, dilakukan dengan sedemikian rupa untuk memaksimalkan kekuatan spesifik industri masing-masing negara. Inilah evolusi alami dari sebuah pola, demikian ujarnya, yang dimulai dengan A.S. memasok hampir semua produk pertahanan ke Korea Selatan, lalu beralih ke peluncur roket, senapan, dan granat produksi lokal Korea Selatan yang dirancang oleh A.S., kemudian ke produksi lokal untuk senjata yang lebih berat seperti pesawat jet tempur yang dirancang A.S., dan pada akhirnya memproduksi produk pertahanan asli buatan Korea Selatan, seperti tank dan artileri bertenaga penggerak mandiri.

Dalam pembicaraan dengan FORUM, Profesor Choi Myoung-jin dari Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan di Howon University setuju dengan pendapat Jeon.

“Pengembangan industri pertahanan Korea Selatan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan diri dan juga untuk mendorong ekonomi negara ini,” kata Choi. “Karena ada tuntutan global dalam perdagangan senjata, ada kemungkinan besar bagi kami untuk mengekspor senjata yang dikembangkan di dalam negeri ke pasar global.”

Choi menguraikan pengembangan KF-16 buatan Korea Selatan, versi produksi lisensi dari F-16 buatan Amerika. (Foto: Pesawat tempur KF-16 Angkatan Udara Korea Selatan melakukan pertunjukan di Pameran Dirgantara dan Pertahanan Internasional Seoul 2017 di Bandara Seoul di Seongnam, Korea Selatan, pada 16 Oktober 2017.)

“Korea Selatan tidak hanya mengimpor pesawat tempur multiperan tapi juga memperoleh teknologi orisinal utamanya, yang memungkinkan negara itu untuk memproduksinya,” katanya. “Kini, Korea Selatan mengekspor pesawat jet tempur, termasuk pesawat latih supersonik T-50 yang dikembangkan di dalam negeri, ke berbagai negara.”

Jeon mengatakan bahwa dia berharap pembelian 40 pesawat jet tempur siluman F-35 buatan A.S. oleh Korea Selatan dapat menghasilkan kolaborasi yang lebih banyak lagi. Selain kemampuan penangkalan yang diberikan oleh pesawat tempur itu kepada Korea Selatan dalam menghadapi Korea Utara, dia ingin Korea Selatan menjadi pangkalan pusat perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan F-35 untuk melayani kawasan itu secara keseluruhan.

“Kerja sama yang sedang berlangsung akan menjadi ajang kerja sama bilateral yang lebih luas,” kata Jeon. “Ini akan menjadi landasan untuk interoperabilitas pada saat kontingensi.”

Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.

saham