• Home »
  • Departemen »
  • Laksma Zakariyya Mansoor membagikan pandangannya tentang memerangi terorisme secara regional dan di Maladewa
Laksma Zakariyya Mansoor membagikan pandangannya tentang memerangi terorisme secara regional dan di Maladewa

Laksma Zakariyya Mansoor membagikan pandangannya tentang memerangi terorisme secara regional dan di Maladewa

Laksma Zakariyya Mansoor bergabung dengan Angkatan Pertahanan Nasional Maladewa (MNDF) pada tahun 1984 dan ditunjuk menjadi perwira delapan tahun kemudian. Dia diangkat sebagai direktur jenderal kontraterorisme di Kementerian Pertahanan dan Keamanan Nasional pada Juli 2014. Dia sebelumnya menjabat sebagai komandan Daerah Pusat MNDF.

Selama lebih dari 30 tahun berdinas, Mansoor telah menjalani berbagai penugasan komando dan staf termasuk komandan Penjaga Pantai MNDF, ketika dia membantu memimpin Penjaga Pantai Maladewa melalui transformasi dan restrukturisasi yang cepat. Dia telah menjabat sebagai direktur jenderal Penjaga Pantai MNDF dan komandan Layanan Perbekalan di beberapa kantor pusat regional.

Mansoor mendapatkan gelar magister di bidang studi keamanan strategis pada tahun 2014 dari National Defense University A.S. Dia juga lulusan Naval Staff College A.S. dan menyelesaikan kursus taruna angkatan laut di Royal Naval College di Inggris, dan beberapa kursus internasional bergengsi lainnya. Dia mendapatkan banyak tanda penghargaan dan juga mewakili Maladewa dan MNDF di berbagai seminar dan kursus di seluruh dunia. Mansoor adalah peneliti di Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies di Honolulu, Hawaii.

Apa peran utama Anda sebagai direktur jenderal di Kementerian Pertahanan?

Saya bertanggung jawab untuk bekerja dengan instansi pemerintah lainnya dalam melakukan analisis ancaman dan juga dalam kapasitas sebagai penasihat untuk pemerintah mengenai kontraterorisme dan kontraradikalisme karena Maladewa adalah negara Muslim, tapi kami telah melihat ancaman dari beberapa bagian masyarakat kami. Kami sedang menyusun pendekatan di seluruh lapisan pemerintah untuk melawan radikalisasi di dalam negeri dan juga untuk mencegah aksi terorisme.

Bagaimana Anda menjelaskan gaya kepemimpinan Anda?

Gaya kepemimpinan saya selalu berupa pendelegasian wewenang dan tanggung jawab. Tapi, gaya saya juga membimbing dan memonitor dengan cermat.

Menurut Anda apa tantangan terbesar bagi militer Maladewa untuk lima tahun ke depan?

Tantangannya adalah untuk mengikuti perkembangan dunia yang terus berubah, ancaman yang terus berubah, lingkungan yang terus berubah yang merupakan ancaman terbesar bagi kami pada saat itu. Kami harus menetapkan sasaran strategis yang bisa kami capai melalui kerja sama regional dengan mitra lain dan juga di tingkat nasional.

Apa yang unik tentang Maladewa dari perspektif keamanan?

Kami memiliki satu agama, satu budaya, satu bahasa. Etnis kami sama. Oleh karena itu, seharusnya juga tidak ada kesenjangan sosial.

Seberapa besar ancaman terorisme untuk Maladewa?

Terorisme merupakan produk akhir radikalisasi. Negara saya belum siap menghadapi terorisme. Kami belum melihat adanya aksi terorisme selama ini. Sangat sedikit hal yang telah terjadi. Kami memang khawatir dengan orang-orang yang telah pergi ke daerah konflik dan kembali ke tanah air suatu hari nanti, sama seperti negara lain. Beberapa warga kami pergi ke Suriah, tetapi belum ada yang kembali. Ini merupakan fenomena global, dan Maladewa tidak terkecuali. Kami harus melawan mereka dan merehabilitasi mereka karena mereka siap untuk melakukan apa pun. Kadang-kadang, mereka lebih terlatih daripada pasukan reguler kami.

Secara keseluruhan, kami tidak melihat ancaman terorisme nyata di Maladewa. Akan tetapi, kami telah melihat beberapa elemen yang lebih radikal terlibat dalam masyarakat yang berada di luar konteks Islam arus utama. Misalnya, ketika beberapa pelajar pergi ke Pakistan atau Arab Saudi dan kemudian kembali ke tanah air, beberapa mencoba mendukung jenis Islam yang lebih radikal.

Apa tantangan keamanan terbesar yang dihadapi Maladewa?

Tantangan bagi Maladewa adalah bahwa negara kami memiliki 1.200 pulau, dan 198 dari pulau-pulau itu dihuni dan ada sekitar 130-an resor. Resor itu biasanya memiliki konsep satu pulau satu resor. Jadi, ketika Anda melihat ancaman, ada potensi munculnya ancaman pada beberapa pulau-pulau terpencil ini. Seperti yang saya tulis dalam tesis saya, Islam radikal dan ekstrem di Maladewa merupakan ancaman potensial bagi industri pariwisata. Maladewa sangat tergantung pada pariwisata. Saya akan mengatakan 80 persen dari PDB [produk domestik bruto] kami diperoleh dari pariwisata. Hal ini telah menjadi tantangan bagi pemerintah; beberapa organisasi telah memberitakan versi Islam yang berbeda. Kelompok-kelompok itu sudah mulai membuat kesenjangan sosial dan juga kesenjangan politik karena masyarakat memiliki perbedaan pendapat tentang agama.

Maladewa merupakan negara maritim, sehingga ada ancaman dari lingkungan maritim di Maladewa, seperti pembajakan dan terorisme maritim. Maladewa berada di tengah-tengah Samudera Hindia, sehingga semua kapal melewati tempat ini. Semua angkutan minyak mentah dan bahan baku dikirim dari Laut Arab dan Laut Merah melalui Maladewa dan dibawa ke timur ke Tiongkok dan Jepang dan sebagainya. Perubahan iklim merupakan tantangan bagi Maladewa. Beberapa tahun terakhir ini, kepemimpinan politik kami telah menganjurkan dan meminta pada tingkat internasional untuk memiliki forum agar bisa berbuat lebih banyak untuk menghentikan pemanasan global. Kami telah melihat beberapa perubahan iklim, seperti yang telah disaksikan negara-negara lain. Perubahan iklim akan menjadi ancaman bagi pariwisata jika hal itu terus berlanjut.

Apakah Anda khawatir dengan ancaman keamanan regional?

Untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan regional, saya percaya hubungan militer harus dijalin dengan erat. Maladewa memiliki hubungan yang sangat baik dengan semua negara melalui SAARC, atau Asosiasi Kerja Sama Regional Asia Selatan. Maladewa memiliki persahabatan yang baik dengan India, Sri Lanka, Nepal, Bhutan. … Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan semua negara-negara ini. Dalam hal ini, kami memerlukan bantuan untuk keamanan kami dari semua negara-negara, tidak akan ada masalah.

Apakah Anda berlatih dengan negara-negara lain di bidang kontraterorisme?

Kami berlatih dengan A.S. mengenai kontraterorisme. A.S. telah sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan kami untuk melatih dan melengkapi pasukan khusus kami dengan perlengkapan yang tepat. Sri Lanka juga sangat berperan untuk mengembangkan pasukan khusus kami. Penting untuk mengembangkan pasukan khusus kami, karena tidak mungkin memprediksi ancaman 100 persen. Setiap tindakan terorisme, Anda harus mencegahnya, sehingga pasukan yang terlatih dengan baik merupakan pencegahan untuk ancaman apa pun. Jadi karena Maladewa merupakan negara kecil, kami harus selalu memelihara pasukan yang siap tempur, yang akan menangkal ancaman. Penting untuk meneruskan latihan militer-ke-militer secara terus-menerus antara Pasukan Khusus A.S. dan Maladewa.

Apakah Anda punya saran mengenai cara lain untuk meningkatkan keamanan regional?

Maladewa memiliki banyak potensi untuk membantu negara-negara lain dan bekerja sama dengan mitra keamanan kami. Karena Maladewa merupakan negara Muslim, ada tempat-tempat lain yang bisa kami lihat untuk dijadikan sebagai teladan. Contohnya, Indonesia telah sangat sukses setelah bom Bali pertama pada tahun 2002 dalam melawan terorisme dan deradikalisasi. Mereka memiliki pendekatan di seluruh kalangan masyarakat dan pemerintah yang telah sangat membantu. Untuk negara sebesar Indonesia yang tidak mengalami tindakan terorisme signifikan selama bertahun-tahun — sebenarnya itu prestasi yang luar biasa. Mereka telah melakukan banyak hal — mengembangkan banyak hukum terorisme baru.

Konferensi kecil regional juga akan sangat membantu, terutama jika kami bisa berbicara dengan negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia. Negara-negara ini dapat mempelajari apa yang telah dilakukan ekstremis Islam di negara-negara lain, apa kisah suksesnya, apa yang bisa kami pelajari. Itu akan menjadi hal yang baik. Bahkan ketika kami menyertakan negara-negara seperti Australia — penduduk Muslimnya tumbuh semakin lama semakin membesar. Jika Anda melihat kelompok-kelompok radikal di negara-negara ini, jumlah mereka kecil. Tapi jumlah kecil ini dapat mematikan jika mereka tidak diawasi. Sebuah contoh yang baik adalah bagaimana hal itu telah ditangani oleh pihak berwenang di Indonesia. Negara itu memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi hal itu telah ditangani dengan cukup baik. Jadi hal-hal itu bisa dipelajari oleh negara-negara seperti Australia dan Selandia Baru tentang ancaman yang muncul.

Saya juga ingin mengundang para pemimpin kawasan ini untuk mengunjungi Maladewa dan memanfaatkan perdamaian, ketenangan, dan stabilitas yang ditawarkan oleh Maladewa. Mereka dapat menggunakan negara kami sebagai contoh bagaimana perdamaian bisa dikembangkan. Dan membantu Maladewa melindungi dirinya sendiri. Kami memiliki tantangan besar untuk melindungi diri kami sendiri — keamanan maritim, lingkungan, pembangunan sosial, dan sebagainya, dan juga unsur pelatihan militer. Kami bersahabat dengan semua negara. Kami memiliki hubungan militer-ke-militer dengan semua negara-negara regional, khususnya A.S., dan kami ingin mereka melanjutkan hubungan ini.

Apa beberapa cara tertentu bagi Maladewa untuk memerangi ekstremisme?

Cara ekonomi dan pendidikan melalui kementerian agama Islam. Itu artinya mengajar dan melibatkan ulama yang lebih moderat. Selain itu, kami telah memodifikasi hukum kontraterorisme dan undang-undang kesatuan agama, yang sudah dimodifikasi. Ini merupakan alat bantu yang akan memberi pemerintah kekuatan untuk mengerahkan pasukan yang lebih besar jika diperlukan. Undang-undang kesatuan agama mendefinisikan dengan jelas siapa yang bisa memberikan khotbah atau ceramah agama. Orang-orang yang tidak memenuhi syarat dan tanpa izin tidak bisa keluar dan memberikan ceramah; hal itu tidak dimungkinkan. Tanggung jawab untuk aktivitas semacam ini berdasarkan undang-undang kesatuan agama diberikan kepada administrasi urusan Islam. Kementerian pemuda juga terlibat dengan kaum muda melalui pembicaraan dengan imam moderat. Kami telah merancang program dengan media untuk mengembangkan kontra narasi untuk melawan imam yang lebih radikal. Selain itu, Maladewa sedang mencoba mengirim lebih banyak pelajar untuk belajar di negara-negara lain seperti Mesir sebagai penyeimbang. Ada masalah praktik serta kesenjangan masyarakat yang kami anggap sebagai ancaman jika mereka pergi ke Pakistan atau Afganistan atau madrasah di sana. Ketika mereka kembali, mereka tidak mengerti bahwa Islam bukanlah konsep yang berpikiran sempit. Pemahaman agama kami merupakan hal yang paling penting bagi masyarakat kami. Jika strategi ini mulai berjalan sebagai pendekatan di seluruh lapisan pemerintah, Maladewa akan sangat sukses.

saham