• Home »
  • Cerita populer »
  • Muncul pertanyaan berkepanjangan mengenai keperkasaan militer Tiongkok meskipun mengalami ekspansi besar
Muncul pertanyaan berkepanjangan mengenai keperkasaan militer Tiongkok meskipun mengalami ekspansi besar

Muncul pertanyaan berkepanjangan mengenai keperkasaan militer Tiongkok meskipun mengalami ekspansi besar

Tom Abke

Bukti ekspansi militer Tiongkok telah semakin banyak dalam beberapa tahun terakhir. Armada kapal selam, kapal induk baru, angkatan udara yang dilengkapi dengan 600 pesawat tempur yang baru saja diproduksi, dan pasukan darat yang dilengkapi dengan teknologi terbaru semuanya itu telah menjadi berita utama. Akan tetapi menilai keefektifan militer Tiongkok merupakan tugas yang lebih sulit.

Klaim yang berlebihan, tugas sangat besar untuk memodernisasi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok terhambat oleh embargo senjata yang berkepanjangan, aparat keamanan internal yang tersebar luas, dan kurangnya pengalaman di medan perang semuanya itu merupakan hambatan potensial bagi keperkasaan militer Beijing, demikian tulis Dhruva Jaishankar, analis pertahanan yang bekerja di Brookings Institution India.

Brookings menerbitkan pernyataan Jaishankar dalam sebuah artikel opini pada Maret 2018.

Timothy Heath yang bekerja sebagai analis riset pertahanan internasional senior di Rand Corp. menyetujui beberapa skeptisisme Jaishankar. “Saya setuju bahwa kurangnya pengalaman tempur tetap menjadi kerentanan utama bagi PLA,” kata Heath, “terutama untuk konflik yang mungkin melibatkan musuh kuat seperti Jepang atau A.S. Alasan utamanya adalah bahwa bentuk peperangan yang ingin PLA lakukan — peperangan bersama terpadu — sangat kompleks dan sulit untuk dilaksanakan. Bahkan di antara sekutu Barat A.S., sangat sedikit negara yang dapat melakukan operasi semacam itu.” (Foto: Satu-satunya kapal induk Tiongkok, Liaoning, tiba di perairan Hong Kong. Kapal induk itu namanya diambil dari provinsi di timur laut Tiongkok.)

Heath menambahkan bahwa warisan komando dan kontrol terpusat, penghormatan terhadap otoritas, dan kecurigaan terhadap inisiatif individu mungkin tidak menghambat PLA melawan musuh yang lebih lemah, tetapi dapat menimbulkan kendala serius terhadap musuh yang memiliki kemampuan tinggi. “Militer Tiongkok masih lemah dalam kemampuannya untuk memproyeksikan kekuatan di luar rangkaian pulau pertama,” katanya. “Selain itu, kemampuan PLA untuk menggunakan persenjataan teknologi tingginya masih diragukan, mengingat kurangnya pengalaman tempur.”

Sehubungan dengan beban berat yang ditanggung militer oleh karena tuntutan keamanan internal, Heath mengatakan bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping telah cukup mengonsolidasikan dan memisahkan kewenangannya untuk mengurangi masalah ini.

Pembatasan atas impor juga tidak memberikan tekanan besar.

“Pada tahun 1990-an, oleh karena efek embargo persenjataan internasional yang diberlakukan menyusul pembantaian Tiananmen, militer Tiongkok membatasi penggunaan alutsista militer A.S. dan alih-alih mulai meningkatkan akuisisinya terhadap alutsista dan sistem persenjataan Rusia. Embargo itu tetap berlaku, dan dengan demikian Tiongkok terus menggunakan teknologi Rusia, dan bukannya teknologi A.S. atau Eropa, untuk sebagian besar kebutuhan impor teknologinya.”

Hingga saat ini, Jaishankar mengakui bahwa Tiongkok tidak terlalu bergantung pada impor persenjataan karena industri pertahanannya sendiri telah berkembang dengan pesat, sebagian berkat “rekayasa balik dan pencurian teknologi.”

Ketika membahas mengenai pasukan darat, PLA telah mengurangi jumlah pasukannya, demikian ungkap Heath. Alih-alih, pasukan angkatan laut, udara, dan rudal telah diprioritaskan karena mereka akan lebih memegang peran penting dalam kondisi darurat yang paling mungkin terjadi.

“Pasukan darat yang besar mencerminkan struktur pasukan ketinggalan zaman yang tersisa dari Perang Dingin,” demikian yang disimpulkannya, “ketika Tiongkok takut akan invasi dari Uni Soviet. Perampingan pasukan darat dengan demikian merupakan reformasi yang wajar dan telah lama tertunda. Saya kira hal ini tidak akan berdampak negatif pada kemampuan PLA.”

saham