Pasifik Selayang Pandang

P. S. Davidson Laksamana Angkatan Laut A.S. Komandan, Komando Indo-Pasifik A.S.

Pembaca yang Terhormat,

Selamat datang di edisi kuartal keempat Indo-Pacific Defense FORUM pada tahun 2018 tentang modernisasi maritim. 

Saat ini, negara-negara Indo-Pasifik menghadapi banyak tantangan maritim kompleks yang melandasi keamanan regional, termasuk ancaman invasi oleh negara tetangga yang agresif; kejahatan, seperti perdagangan manusia, pembajakan, dan penangkapan ikan ilegal; serta sengketa maritim dan teritorial di Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur. Untuk menjaga perdamaian, Amerika Serikat beserta sekutu dan mitranya bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas militer maritim kolektif guna menjaga kebebasan laut, mencegah konflik dan pemaksaan, serta mendorong kepatuhan terhadap standar, hukum, dan norma internasional.  

Sebagai tanggapan atas meningkatnya sikap asertif dan proyeksi kekuatan angkatan laut di kawasan ini, terutama oleh Tiongkok, negara-negara meningkatkan belanja pertahanan untuk memodernisasi kekuatan maritim, membeli kapal selam, kapal perang, perahu patroli, dan pesawat pengintai. 

Dalam edisi FORUM ini, tiga penulis tamu menganalisis ambisi Tiongkok sebagai kekuatan maritim. Pertama, Dr. Andrew S. Erickson, seorang profesor di Institut Studi Maritim Tiongkok di U.S. Naval War College, menjelaskan signifikansi ekspansi tiga kekuatan laut Tiongkok. Spesialis Tiongkok, Liza Tobin, yang bekerja di Komando Indo-Pasifik A.S. memberikan gambaran yang arif tentang reformasi kelembagaan di balik strategi maritim Tiongkok. Pensiunan Angkatan Laut Republik Korea, Kapten Sukjoon Yoon menyajikan peluang bagi negara seperti Australia dan Korea Selatan untuk membantu memperluas kapabilitas angkatan laut negara-negara Asia Tenggara.

FORUM melengkapi terbitan ini dengan artikel yang ditulis oleh staf yang menekankan peran penting yang akan terus dijalankan sanksi internasional terhadap Korea Utara hingga denuklirisasinya selesai. Kendati ada upaya di sana-sini untuk menghindari larangan, sanksi bersama terbukti sangat penting dalam menekan Korea Utara untuk bertemu dengan Presiden A.S. Donald Trump di Singapura pada 12 Juni 2018. Memastikan kepatuhan tidak hanya memerlukan kerja sama maritim multinasional di antara negara-negara Indo-Pasifik tetapi juga pengakuan global atas kewajiban bersama untuk menegakkan sanksi berkelanjutan hingga keadaan akhir yang diinginkan tercapai.

Semoga edisi ini mendorong pembahasan regional tentang tantangan maritim terdepan ini, dan saya menyambut baik komentar Anda. Silakan hubungi staf FORUM di ipdf@ipdefenseforum.com untuk menyampaikan perspektif Anda.

Salam,

P. S. Davidson

Laksamana Angkatan Laut A.S.

Komandan, Komando Indo-Pasifik A.S.