Penangkalan Strategis

Penangkalan Strategis

Sekutu dan mitra menjadi kunci postur keamanan di kawasan Indo-Asia-Pasifik

Mayor Patrick Applegate/Angkatan Udara A.S

Kawasan Indo-Asia-Pasifik telah lama menjadi daerah strategis bagi Amerika Serikat sehubungan dengan perdagangan, ekonomi, dan keamanan global. Secara historis, A.S., meskipun menghargai negara mitra dan bersedia bekerja di samping mereka, sebagian besar telah bekerja secara sepihak untuk keamanan dan penangkalan. Namun, selama dua dekade terakhir, globalisasi pasar bebas dan perubahan masyarakat global, ditambah dengan perubahan struktur pasukan A.S., telah menciptakan perubahan dalam filosofi tersebut menjadi filosofi ketika A.S. menyadari bahwa sekutu dan mitra merupakan pendorong penting terhadap postur penangkalan. Meskipun pasukan A.S. diperlengkapi dan dilatih untuk beroperasi secara sepihak untuk mempertahankan kepentingan A.S. dan norma-norma internasional, sekutu dan mitra regional memberikan sarana untuk menciptakan efek sinergis dan pengganda kekuatan, terutama yang berkaitan dengan operasi penangkalan.

Pada akhir abad ke-20, penangkalan militer terutama digunakan untuk menjelaskan pencegahan atau penghindaran program senjata pemusnah massal termasuk proliferasi, pengonversian untuk dijadikan senjata, dan penggunaannya. Definisi ini masih penting bagi keamanan nasional. Sekutu dan mitra mengandalkan penangkalan nuklir A.S. untuk menghalangi penggunaan senjata nuklir dan mencegah proliferasi nuklir.

Tentara Australia dan Selandia Baru dan Marinir Korea Selatan dan A.S. melakukan latihan serangan amfibi di Pantai Doksuri, Korea Selatan, selama latihan Ssang Yong 16.
[ALLISON LOTZ/PASUKAN MARINIR A.S.]

Pada gilirannya, A.S. bekerja sama dengan sekutu dan pihak lain untuk mendorong mereka agar tidak mengembangkan persenjataan nuklir mereka sendiri, yang dapat menyebabkan dampak ketidakstabilan pada kawasan ini. Contoh dari upaya ini adalah situasi yang sedang berlangsung di Semenanjung Korea ketika Korea Utara telah menunjukkan kemampuan nuklirnya dan telah mengancam pengonversian nuklir untuk dijadikan senjata sebagai bentuk permusuhan terhadap negara tetangganya, termasuk Korea Selatan dan Jepang. Korea Selatan dan Jepang telah memperhitungkan kemitraan mereka dengan A.S. dan kepatuhan terhadap hukum dan norma internasional untuk melawan proliferasi Korea Utara dengan tidak mengembangkan senjata nuklir mereka sendiri untuk melawan Korea Utara.

OPERASI PENANGKALAN YANG LEBIH LUAS  

Penangkalan tidak hanya berfokus pada nuklir, dan dalam beberapa tahun terakhir diskusi umum telah kembali ke definisi yang lebih luas dan klasik. Penangkalan mencakup operasi dan aktivitas yang dirancang untuk mencegah aktor negara atau non-negara agar tidak melakukan tindakan yang dapat dianggap mengancam kepentingan A.S. dan negara mitra. Dalam hal yang lebih relevan dengan kawasan Indo-Asia-Pasifik, ini adalah tindakan yang melanggar hukum atau norma kebiasaan internasional. Berdasarkan definisi yang lebih luas ini, Korea Selatan dan Jepang merupakan mitra dan sekutu penting bagi operasi penangkalan A.S.

Perwira A.S. menunjukkan kepada anggota Resimen Patroli Sungai Angkatan Laut Thailand cara menembakkan senapan mesin kaliber .50 selama Cooperation Afloat Readiness and Training 2015 di Sattahip, Thailand. [KOPRAL KEPALA JOSHUA SCOTT/ANGKATAN LAUT A.S. ]

Kemitraan baru-baru ini antara Korea Selatan dan Jepang — yang dikombinasikan dengan operasi A.S. dalam menghadapi agresi berkelanjutan Korea Utara — merupakan contoh arti penting sekutu dan mitra dalam operasi penangkalan. Pada Maret 2017, A.S. menggunakan Keberadaan Pengebom Berkesinambungan (Continuous Bomber Presence – CBP) yang terdiri dari pesawat pengebom B-1 dan melakukan misi pelatihan rutin dari Guam ke Korea Selatan.

Selama misi ini, B-1 terintegrasi dengan pesawat tempur Pasukan Bela Diri Udara Jepang dalam pelatihan formasi di Laut Cina Timur sebelum mencapai Semenanjung Korea. Setelah meninggalkan formasi dengan pesawat tempur Pasukan Bela Diri Udara Jepang, B-1 kemudian bergabung kembali dengan pesawat tempur Angkatan Udara Korea Selatan untuk pelatihan serupa di atas wilayah udara yang dikendalikan Korea Selatan. Kedua negara beroperasi secara bilateral dengan A.S., dan perencanaan misi ini memerlukan koordinasi yang terperinci di antara ketiga negara. Meskipun Korea Selatan dan Jepang memiliki sejarah konflik diplomatik dan militer, kemitraan dan komunikasi mereka saat ini menunjukkan kemampuan kedua negara ini untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah secara damai dan arti penting melupakan pengalaman buruk di masa lampau demi mencapai kepentingan bersama. Korea Selatan, Jepang, dan A.S. kemudian dapat berfokus pada cara terkoordinasi untuk menangkal agresi Korea Utara sambil memastikan pertahanan dan dukungan timbal balik.

PENTINGNYA KEMITRAAN REGIONAL

Semangat kerja sama yang sama ini berlaku pada daerah lain di kawasan Indo-Asia-Pasifik. Laut Cina Selatan merupakan daerah tempat sekutu dan mitra menjadi faktor penting terhadap tujuan penangkalan. Laut Cina Selatan merupakan jalur perairan internasional yang vital untuk sebagian besar ekonomi global tempat kebebasan navigasi dan kepatuhan terhadap norma-norma internasional menjadi kepentingan terbaik semua negara regional. A.S. mendukung kerja sama di antara semua negara di kawasan ini untuk menyelesaikan perselisihan melalui komunikasi yang mengikuti prinsip-prinsip Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan yang diakui secara internasional seperti Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut.

Tentara Thailand dan A.S. mendorong truk yang terjebak di pasir saat latihan militer gabungan Cobra Gold di provinsi Chonburi, Thailand timur, pada Februari 2017.
[The Associated Press]

A.S. juga menjalin beberapa kemitraan di kawasan ini dengan negara-negara seperti Australia, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Vietnam merupakan mitra strategis dan ekonomi utama meskipun terjadi konflik sebelumnya di antara kedua negara. A.S. mendukung Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, sebuah organisasi keterlibatan kemanusiaan, ekonomi, dan pemimpin utama. Ke 10 negara Asia Tenggara ini mempromosikan kemitraan antarpemerintah dan kemitraan erat yang memastikan semua negara memiliki akses yang sama terhadap jalur udara, jalur perairan, dan sumber daya internasional bersama.

Kemitraan ini menunjukkan pemahaman kolektif negara-negara mitra sehubungan dengan pentingnya kerja sama internasional dan penyelesaian sengketa secara damai, sembari mematuhi hukum dan norma internasional. Bekerja sama dalam kemitraan dengan A.S. sangat penting untuk memastikan penangkalan berkesinambungan di Laut Cina Selatan.

Untuk menjaga keamanan nasional dan melindungi kepentingan nasional, A.S. akan terus bekerja sama dengan mitra dan sekutu di seluruh kawasan Indo-Asia-Pasifik setiap harinya. Kemitraan ini merupakan cara yang paling efisien untuk menunjukkan kegigihan sehubungan dengan menghormati dan mempertahankan akses terhadap jalur udara, jalur perairan internasional, sumber daya alam bersama global, dan melindungi zona ekonomi eksklusif, sembari menjaga kedaulatan teritorial. Kerja sama multilateral yang jelas akan menangkal agresi dan memastikan negara-negara regional memahami bahwa bukan demi kepentingan terbaik mereka secara politis, ekonomi, atau militer untuk menyelesaikan perbedaan secara independen dengan kekerasan.

saham