Perjumpaan dengan Tiongkok tidak akan menghalangi patroli Australia di Laut Cina Selatan

Perjumpaan dengan Tiongkok tidak akan menghalangi patroli Australia di Laut Cina Selatan

The Associated Press

Perdana Menteri Australia mengatakan bahwa negaranya memiliki “hak sempurna” untuk melintasi Laut Cina Selatan menyusul laporan media pada akhir April 2018 bahwa angkatan laut Tiongkok menantang tiga kapal perang Australia di perairan yang dipersengketakan.

Tiongkok “menantang” dua fregat Australia dan sebuah kapal pengisian ulang minyak pada April 2018 ketika kapal-kapal Australia itu berlayar ke Vietnam, demikian yang dilaporkan Australian Broadcasting Corp. yang mengutip para pejabat pertahanan secara anonim.

Tidak jelas apa yang terjadi selama perjumpaan itu saat Tiongkok melakukan latihan angkatan laut terbesarnya di kawasan itu.

Kementerian Pertahanan Tiongkok membela tindakan angkatan lautnya, mengatakan bahwa laporan itu “tidak sesuai dengan fakta.”

Pada 15 April, kapal-kapal dari angkatan laut Tiongkok dan Australia “bertemu satu sama lain di Laut Cina Selatan,” demikian ungkapnya dalam sebuah pernyataan. “Kapal-kapal Tiongkok menggunakan bahasa profesional dalam berkomunikasi dengan pihak Australia, beroperasi secara sah, dan sesuai dengan peraturan, secara profesional dan aman,” ungkap pernyataan itu.

Tidak ada rincian yang diberikan tentang apa yang dikomunikasikan selama perjumpaan itu atau apakah ada tindakan lain yang diambil.

Tiongkok mengklaim hampir seluruh kawasan Laut Cina Selatan dan telah membangun beberapa pulau untuk memperkuat posisinya di jalur perairan tempat pemerintah lain memiliki klaim tumpang tindih dan yang merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia.

Australia telah menolak tekanan dari Amerika Serikat, sekutu pertahanan terpentingnya, untuk menantang zona-zona teritorial Tiongkok, yang tidak diakui oleh hukum internasional. Kapal Angkatan Laut A.S. secara teratur berlayar di dekat fitur-fitur buatan Tiongkok yang mencakup instalasi militer sehingga mengundang protes dari Beijing.

“Kami mempertahankan dan menjalankan hak kebebasan navigasi dan penerbangan di seluruh dunia dan, dalam konteks ini, kami berbicara tentang kapal angkatan laut di lautan dunia, termasuk Laut Cina Selatan, seperti juga hak sempurna kami sesuai dengan hukum internasional,” ungkap Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull. Dia tidak berkomentar tentang insiden spesifik itu ketika ditanyai oleh jurnalis di London.

Departemen Pertahanan mengatakan bahwa pihaknya tidak memberikan rincian operasional terkait dengan kapal-kapal yang transit di Laut Cina Selatan. Departemen Pertahanan mengonfirmasi bahwa ketiga kapal perang itu telah tiba di Ho Chi Minh City, Vietnam. Mereka melakukan kunjungan muhibah selama tiga hari ke Vietnam. (Foto: Kapal fregat Angkatan Laut Australia HMAS Anzac bersiap untuk berlabuh di pelabuhan Saigon di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada April 2018. Kapal itu merupakan salah satu dari tiga kapal Angkatan Laut Australia yang melakukan kunjungan selama empat hari ke pelabuhan di Vietnam.)

Neil James, direktur eksekutif Australian Defense Association, kelompok cendekiawan kebijakan keamanan, mengatakan aspek pertama dari tantangan semacam itu biasanya adalah peringatan radio bahwa kapal Australia berada di perairan teritorial Tiongkok dan permintaan untuk identifikasi. Kapal Australia akan menjawab bahwa mereka berada di perairan internasional.

Tingkat tantangan berikutnya melibatkan pengiriman pesawat terbang dan kapal untuk menyelidikinya.

“Tantangan itu akan meningkat. Pada akhirnya jika mereka berada di perairan teritorial Anda dan mereka tidak seharusnya berada di sana, Anda dapat memberikan tembakan peringatan — tetapi tidak ada yang melakukannya selama bertahun-tahun, kecuali Korea Utara,” kata James.

Laksamana Harry B. Harris, Jr., komandan pasukan A.S. di Indo-Pasifik, telah mengundang Australia untuk melakukan patroli angkatan laut bersama di Laut Cina Selatan dan telah menggambarkan Tiongkok sebagai “kekuatan transnasional yang mengganggu.”

saham